SIGNALBERITA.COM – Dampak konflik di Timur Tengah mulai terasa hingga kawasan Asia Tenggara. Harga bahan bakar minyak (BBM) di Kamboja di laporkan melonjak tajam, di picu eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Data Kementerian Perdagangan Kamboja mencatat harga solar kini mencapai 7.500 riel per liter atau sekitar Rp30.500 per liter. Angka ini naik signifikan di bandingkan akhir Februari yang masih berada di kisaran 3.750 riel per liter.
Kenaikan harga ini terjadi seiring lonjakan harga minyak dan gas global akibat konflik geopolitik yang memanas. Sebagai negara yang sepenuhnya bergantung pada impor energi, Kamboja menjadi salah satu yang paling terdampak.
Tak hanya solar, harga bensin juga ikut meroket. Bensin biasa kini di jual sekitar 5.450 riel per liter atau setara Rp21.000, meningkat tajam dalam waktu singkat.
Lonjakan harga BBM ini mulai menekan sektor pertanian. Para petani mengeluhkan biaya operasional yang meningkat drastis, terutama untuk penggunaan traktor dan pompa air.
Seorang petani di Provinsi Battambang mengungkapkan bahwa biaya sewa traktor hampir dua kali lipat, dari 80.000 riel menjadi 150.000 riel. Kondisi ini dinilai memberatkan, terutama menjelang musim tanam.
Selain itu, para petani berharap faktor cuaca dapat membantu meringankan beban biaya, dengan mengandalkan hujan untuk mengurangi penggunaan pompa air berbahan bakar solar.
Pemerintah Kamboja sendiri telah mencoba mengendalikan situasi dengan menerapkan pembatasan harga, guna menjaga stabilitas pasar domestik di tengah tekanan global yang terus meningkat.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa konflik internasional tidak hanya berdampak pada kawasan perang, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi negara lain, termasuk harga energi dan ketahanan pangan.***








