JAKARTA, SIGNALBERITA.COM — Danantara Indonesia mempercepat pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) di tiga wilayah: Bali, Bekasi, dan Bogor. Proyek ini menjadi bagian awal dari rencana besar pembangunan sistem pengelolaan sampah terpadu nasional.
Direktur Investasi Danantara Investment Management sekaligus Lead Waste to Energy, Fadli Rahman, mengatakan tahap persiapan proyek telah berjalan.
Sejumlah lokasi bahkan sudah memasuki proses pematangan lahan. “Konstruksi fisik ditargetkan mulai akhir Juni 2026,” ujarnya.
Setiap proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun. Dalam skema pembiayaan, Danantara melalui entitas Denera memegang 30 persen saham, sementara 70 persen sisanya dimiliki mitra strategis dengan kombinasi pendanaan utang dan ekuitas.
Untuk pengembangan teknologi, Danantara menggandeng mitra internasional. Proyek di Bali dan Bogor bekerja sama dengan Zhejiang Weiming Environment Protection Co. Ltd., sedangkan proyek di Bekasi melibatkan Wangneng Environment Co., Ltd..
Seluruh proyek ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2027 hingga awal 2028. Perusahaan menilai proyek ini akan menjadi fondasi pengembangan energi berbasis sampah di Indonesia.
Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara, Rohan Hafas, menyatakan perusahaan juga menyiapkan ekspansi tahap berikutnya. Danantara berencana membuka peluang kerja sama untuk pembangunan PSEL di 25 kota pada tahap kedua.
Menurut Rohan, perusahaan terbuka bagi mitra dalam dan luar negeri, dengan syarat memiliki rekam jejak, kapasitas teknis, dan kekuatan finansial yang memadai.
Dengan ekspansi ini, Danantara menargetkan sistem pengelolaan sampah modern dapat menjangkau lebih banyak wilayah, termasuk sebagian besar ibu kota provinsi di Indonesia.***








