SUNGAIPENUH, SIGNALBERITA.COM – Setelah harga Cabai sempat turun dengan menyentuh harga Rp 20 Ribu Per kilogram, harga cabai mulai merangkak naik. Bahkan tembus Rp 40 Ribu per kilogram.
Berdasarkan pantauan di Tanjung Bajure, Kota Sungai Penuh, mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir. Dari sebelumnya sekitar Rp20.000 per kilogram, kini harga melonjak hingga Rp40.000 per kilogram.
Kenaikan drastis ini langsung memicu keresahan di tengah masyarakat, terutama bagi ibu rumah tangga yang bergantung pada cabai sebagai bahan utama dalam masakan sehari-hari.
Pasokan Berkurang, Harga Melonjak
Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa lonjakan harga terjadi akibat berkurangnya pasokan dari petani. Kondisi ini telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Salah satu pedagang, Erik, menyebut distribusi cabai tidak berjalan normal sehingga stok di pasar menipis.
“Sudah beberapa hari harga naik karena pasokan dari petani berkurang,” ujarnya.
Daya Beli Masyarakat Tertekan
Kenaikan harga cabai berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Banyak warga terpaksa mengurangi konsumsi atau mencari alternatif lain.
Beberapa langkah yang dilakukan masyarakat antara lain mengurangi penggunaan cabai, beralih ke cabai kering, atau menunda pembelian dalam jumlah besar.
Pedagang Harap Harga Stabil
Para pedagang berharap pasokan segera kembali normal agar harga dapat turun dan aktivitas jual beli kembali stabil.
Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan jumlah pembeli akan menurun dan berdampak pada perputaran ekonomi di pasar tradisional.
Komoditas Pangan Rentan Fluktuasi
Harga cabai dikenal sebagai salah satu komoditas yang paling mudah berfluktuasi. Faktor cuaca, gangguan distribusi, hingga tingginya permintaan kerap menjadi pemicu utama kenaikan harga.
Potensi Picu Inflasi
Lonjakan harga cabai tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga berpotensi memicu inflasi di sektor pangan. Selain itu, pelaku usaha kuliner juga bisa terdampak akibat meningkatnya biaya bahan baku.(Dra)








