SB – Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy meninjau penerapan teknologi pertanian berbasis data dan kecerdasan buatan (AI) di Research Center Yayasan Edu Farmers International (Edufarmers), Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (22/8/2026).
Kunjungan kerja tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong inovasi pertanian yang lebih produktif, efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dalam kunjungannya, Rachmat melihat langsung penerapan sistem pertanian presisi yang menggabungkan pengujian kondisi tanah dengan analisis berbasis AI. Salah satu teknologi yang di perkenalkan adalah Soil Test Kit, alat uji tanah portabel yang telah di gunakan di lebih dari 200 demplot untuk mengukur pH, unsur hara NPK, C-organik, hingga salinitas tanah.
Teknologi tersebut juga di padukan dengan Pak Dayat AI, asisten pertanian berbasis WhatsApp yang dapat memberikan rekomendasi pemupukan secara praktis kepada petani.
Rachmat mengapresiasi inovasi yang langsung di terapkan di lapangan tersebut. Menurutnya, model pertanian berbasis data dapat memberikan harapan baru bagi peningkatan produktivitas petani sekaligus mendukung upaya mencapai swasembada pangan, energi, dan air.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo mengatakan, teknologi tersebut masih dapat di kembangkan dan di integrasikan dengan berbagai program pemerintah, termasuk pemetaan kesehatan tanah dan penyesuaian terhadap kondisi iklim.
Selain teknologi digital, Rachmat juga menyaksikan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Di antaranya penerapan sistem irigasi berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD) yang di nilai dapat menghemat penggunaan air sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Sistem pengelolaan pasca panen
Edufarmers juga menerapkan metode pengelolaan sisa panen tanpa pembakaran atau no-burning rice farming. Berbagai inovasi tersebut merupakan hasil lebih dari 100 siklus riset yang di lakukan sejak 2022 pada sejumlah komoditas, seperti padi, jagung, cabai, dan bawang merah.
Teknologi pertanian tersebut telah mulai di manfaatkan petani lokal. Perwakilan Pelopor Tani, Aris, menyebut kombinasi alat uji tanah dan panduan digital membantu petani dalam menentukan langkah pengelolaan lahan secara lebih tepat.
Rachmat menilai model tersebut dapat menjadi contoh pengembangan pertanian secara menyeluruh, mulai dari kesehatan tanah, kondisi iklim, hingga peningkatan kapasitas petani dan pengelolaan setiap komoditas.
Kunjungan itu turut di hadiri Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS), serta mitra pembangunan global seperti Google.org, FAO, dan World Bank.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan lembaga pembangunan di nilai penting untuk memperluas penerapan solusi pertanian berbasis bukti serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia.(*)




















