JAMBI, Signalberita.com — Inflasi di Jambi hingga per Agustus 2026,mencapai 3,60 persen hal ini berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jambi.
Inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,92 pada Agustus 2025 menjadi 112,84 pada Agustus 2026.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, S.E., M.E., dalam rilisnya yang dikutip Selasa (1/9/2026), menyampaikan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Bungo sebesar 4,10 persen dengan IHK 114,33.
Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kota Jambi sebesar 3,53 persen dengan IHK 111,61.
“Pada Agustus 2026, Provinsi Jambi mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,38 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 2,12 persen,” demikian keterangan BPS Provinsi Jambi dalam rilis tersebut.
Secara tahunan, inflasi Jambi terjadi karena adanya kenaikan harga pada 10 kelompok pengeluaran.
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi kelompok dengan inflasi y-on-y tertinggi, yakni 7,07 persen. Kemudian kelompok Transportasi sebesar 5,05 persen dan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 4,91 persen.
Selanjutnya, kelompok Kesehatan mengalami inflasi sebesar 4,02 persen, Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran 4,42 persen, Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga 2,94 persen, serta Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 2,53 persen.
Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan tercatat mengalami inflasi 1,21 persen, Rekreasi, Olahraga, dan Budaya 1,02 persen, serta Pendidikan sebesar 1,30 persen.
Di sisi lain, hanya kelompok Pakaian dan Alas Kaki yang mengalami penurunan indeks dengan deflasi sebesar 4,25 persen secara y-on-y.
Daging Ayam Jadi Penyumbang Terbesar
BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi Jambi sepanjang Agustus 2026.
Untuk inflasi y-on-y, komoditas yang dominan memberikan andil antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, bensin, nasi dengan lauk, bahan bakar rumah tangga, jeruk, minyak goreng, ikan serai, rokok, angkutan udara, mobil, sate, sewa rumah hingga tarif rumah sakit.
Dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi 4,91 persen, daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,66 persen.
Selain daging ayam ras, jeruk memberikan andil 0,17 persen, minyak goreng 0,15 persen, ikan serai 0,13 persen, sigaret kretek mesin (SKM) 0,12 persen, sigaret kretek tangan (SKT) 0,07 persen, serta ikan nila 0,06 persen.
Sementara itu, sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi secara tahunan, terutama bawang merah sebesar 0,35 persen, beras 0,09 persen, serta buncis dan tomat masing-masing 0,03 persen.
Untuk pergerakan harga secara bulanan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil inflasi sebesar 0,35 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, kentang, ikan serai, ikan nila, beras, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, telur ayam ras, rokok, terong, wortel dan makanan ringan.(Tim)




















