JAKARTA, Signalberita.com — Penggunaan truk listrik kelas berat (Heavy Duty Electric Vehicle/HDEV) di nilai memiliki prospek paling cerah di sektor pertambangan. Selain mendukung transisi energi bersih, adopsi kendaraan listrik di kawasan tambang mampu memangkas biaya operasional secara signifikan.
Executive Director Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menjelaskan bahwa logistik dan pengangkutan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional industri pertambangan. Oleh karena itu, efisiensi di sektor angkutan menjadi prioritas utama para pelaku usaha.
“Perusahaan tambang memiliki komponen biaya operasional terbesar pada sektor angkutan. Hal ini membuat ruang adopsi truk listrik di kawasan tambang jauh lebih terbuka dan prospektif di bandingkan sektor angkutan lainnya,” ujar Fabby.
Lebih lanjut, Fabby menyoroti tantangan operasional tambang yang umumnya berada di lokasi terpencil (remote area). Kondisi geografis ini memaksa perusahaan mengangkut bahan bakar minyak (BBM) sendiri ke lokasi tambang, yang mengakibatkan harga BBM membengkak jauh lebih mahal ketimbang harga di SPBU umum.
Dengan beralih ke truk listrik, perusahaan tambang tidak hanya menekan efisiensi energi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada rantai pasok BBM yang mahal di daerah terpencil.(*)


















