JAKARTA, Signalberita.com – Pada pertengahan Bulan Oktober 2026 ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta potensi hujan lebat dan angin kencang.
Bahkan, untuk kondisi di beberapa wilayah seperti Suhu maksimum di Jawa Barat tercatat mencapai 38,5 derajat Celsius pada 17 Oktober 2026. Pada tanggal yang sama, suhu di Lampung dan Jawa Tengah mencapai 38 derajat Celsius. Sementara itu, Jawa Timur mencatat suhu maksimum 38 derajat Celsius pada 16 Oktober 2026.
Kondisi panas tersebut terjadi ketika tutupan awan di sejumlah wilayah Indonesia berkurang akibat pengaruh El Niño yang sangat kuat dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Minimnya awan dan terbatasnya hujan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak pemanasan pada siang hari.
Kondisi ini juga mempercepat pengeringan vegetasi sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Titik Panas Melonjak di Kalimantan
Ancaman karhutla turut terlihat dari perkembangan titik panas atau hotspot selama periode 16–19 Oktober 2026. Data pemantauan per 19 Oktober menunjukkan peningkatan signifikan jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah.
Kalimantan Tengah mencatat lonjakan dari 157 menjadi 937 titik. Di Kalimantan Barat, jumlahnya meningkat dari 31 menjadi 231 titik. Sementara itu, Sumatera Selatan naik dari 19 menjadi 66 titik dan Jawa Timur bertambah dari 10 menjadi 36 titik dibandingkan hari sebelumnya.
Selain peningkatan titik panas, sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Perkembangan tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, untuk meningkatkan pemantauan serta mencegah munculnya titik api baru.
BMKG juga mengingatkan bahwa meskipun sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga menengah, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan lebat secara lokal.
Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi
Di tengah dominasi cuaca panas, sejumlah wilayah Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat dinamika atmosfer regional dan lokal.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), bersama perlambatan dan pertemuan angin serta suhu muka laut yang relatif hangat, turut mendukung pertumbuhan awan hujan.
Pada periode 16–18 Oktober 2026, curah hujan tercatat mencapai 105 milimeter per hari di Papua, 66 milimeter per hari di Sumatera Utara, dan 51 milimeter per hari di Kalimantan Tengah.
BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah, yakni 0–150 milimeter per dasarian, pada periode dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026.
Kondisi relatif kering berpotensi berlanjut di sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.
Meski demikian, aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, dan perairan utara Kalimantan Barat, serta pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Champi di timur Filipina, dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan di sejumlah daerah.
Pertemuan dan perlambatan angin, di tambah kondisi atmosfer yang labil, juga berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat yang dapat di sertai petir dan angin kencang.
Peringatan Cuaca 20–22 Oktober 2026
Pada periode 20–22 Oktober 2026, cuaca di Indonesia umumnya di prakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan hujan sedang di sejumlah wilayah, antara lain Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, serta sejumlah provinsi di Tanah Papua.
Adapun wilayah yang masuk kategori peringatan dini adalah:
- Siaga hujan lebat hingga sangat lebat: Aceh dan Sumatera Utara.
- Potensi angin kencang: Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Selatan.
Masyarakat di wilayah tersebut diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan dampak cuaca ekstrem.
Peringatan Cuaca 23–26 Oktober 2026
Untuk periode 23–26 Oktober 2026, kondisi cuaca secara umum masih di prakirakan didominasi cerah berawan hingga hujan ringan.
Potensi peningkatan hujan sedang perlu di waspadai di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Sementara itu, peringatan dini cuaca meliputi:
- Siaga hujan lebat hingga sangat lebat: Aceh dan Papua Pegunungan.
- Potensi angin kencang: Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Potensi hujan dan angin kencang tersebut perlu di antisipasi karena dapat memicu genangan, longsor di wilayah rawan, pohon tumbang, maupun gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG Imbau Masyarakat Hemat Air dan Cegah Karhutla
Menghadapi cuaca panas dan kondisi kering, masyarakat di imbau mengurangi paparan sinar matahari secara langsung, menggunakan tabir surya, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Masyarakat dan pemerintah daerah juga di minta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Jika menemukan indikasi titik api, masyarakat di minta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.(*)




















