JAWATIMUR, Signalberita.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Kristomei Sianturi, melakukan pemantauan udara untuk melihat perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, Jumat (23/10/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Kristomei menyampaikan bahwa hujan mulai turun di kawasan Gunung Arjuno. Kondisi ini menjadi perkembangan positif di tengah upaya pemadaman kebakaran yang masih berlangsung.
Meski demikian, hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat sejumlah titik api yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Petugas tetap perlu melakukan pemadaman dan pemantauan secara berkelanjutan guna mencegah api meluas serta mengurangi dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan.
BNPB Ingatkan Masyarakat Tidak Membakar Lahan
Kristomei mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara terbuka, baik untuk membakar sampah maupun membuka dan mengelola lahan.
Menurutnya, upaya pemadaman yang dilakukan pemerintah akan menghadapi kendala apabila aktivitas pembakaran masih terjadi di tengah masyarakat. Selain berpotensi memicu kebakaran baru, asap yang di hasilkan dapat mengganggu kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga perekonomian warga.
“Di satu sisi kita berupaya memadamkan api supaya tidak ada asap yang mengganggu aktivitas dan kesehatan kita, termasuk kesehatan anak-anak kita. Namun, di sisi lain masih ada masyarakat yang melakukan pembakaran. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” tegas Kristomei.
Ia menekankan bahwa pencegahan kebakaran harus berjalan beriringan dengan upaya pemadaman. Partisipasi masyarakat sangat di perlukan agar kebakaran tidak semakin meluas dan kualitas udara tidak semakin memburuk.
BNPB Perkuat Koordinasi Penanganan Karhutla
BNPB juga mendorong penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan pihak swasta dalam menangani karhutla di Jawa Timur.
Selain mendukung upaya pemadaman di lapangan, BNPB akan mengidentifikasi kebutuhan pemerintah daerah yang belum terpenuhi untuk mempercepat penanganan kebakaran.
Sinergi lintas sektor tersebut di harapkan dapat membantu mengoptimalkan pengerahan sumber daya, mempercepat pengendalian api, serta meminimalkan dampak bencana terhadap masyarakat dan lingkungan.
Kristomei turut mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran serta dukungan terhadap petugas pemadam menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla.
Karhutla Berdampak pada 26 Kabupaten/Kota di Jawa Timur
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur yang di sampaikan dalam laporan tersebut, karhutla telah berdampak pada 26 kabupaten/kota dengan total 184 kejadian.
Luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 11.449 hektare. Sebanyak 77,05 persen dari luas tersebut merupakan kawasan hutan konservasi.
Besarnya luasan kebakaran tersebut menunjukkan pentingnya penanganan terpadu, mulai dari pemadaman titik api, pemantauan kondisi lapangan, hingga pencegahan pembakaran oleh masyarakat.
Meskipun hujan mulai turun di kawasan Gunung Arjuno, upaya pengendalian karhutla tetap perlu di lanjutkan karena masih terdapat titik api yang membutuhkan penanganan.
Pemerintah dan masyarakat di harapkan terus bekerja sama untuk mencegah kebakaran meluas, melindungi kawasan hutan, serta mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat asap karhutla.(*)




















