Foto: Istimewa
SIGNALBERITA.COM – Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu lonjakan tajam harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran krisis energi global.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Harga minyak dunia sempat melonjak lebih dari 25 persen pada perdagangan awal pekan, mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Minyak mentah bahkan sempat menyentuh kisaran 119 dolar AS per barel sebelum akhirnya terkoreksi. Meski begitu, harga masih bertahan tinggi dengan Brent di atas 105 dolar AS dan WTI sekitar 100 dolar AS per barel.
Kenaikan harga di picu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini, sehingga gangguan keamanan berdampak langsung pada distribusi energi global.
Aktivitas kapal tanker di laporkan melambat akibat meningkatnya risiko serangan dan ketidakpastian keamanan di kawasan tersebut.
Negara-negara Asia di perkirakan menjadi pihak paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.
Para analis menilai, jika konflik terus berlanjut, harga energi berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah hingga panjang.
Lonjakan harga juga di picu dinamika politik di Iran, termasuk pergantian kepemimpinan yang di nilai memperkuat dominasi kelompok garis keras.
Hal ini membuat upaya tekanan politik dari Amerika Serikat terhadap Iran semakin sulit.
Sejumlah negara produsen mulai mengalami gangguan produksi.
Produksi minyak Irak di laporkan turun drastis hingga sekitar 70 persen akibat hambatan ekspor melalui Selat Hormuz.
Selain itu, insiden keamanan juga terjadi di fasilitas energi, seperti kebakaran di kawasan industri minyak Fujairah, Uni Emirat Arab, serta ancaman drone terhadap ladang minyak di Arab Saudi.
Dampak konflik juga merembet ke pasar keuangan global.
Bursa saham Asia, termasuk indeks di Tokyo, sempat anjlok tajam hingga sekitar 7 persen sebelum akhirnya stabil.
Di tengah lonjakan harga, tekanan muncul di dalam negeri Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat mendesak pemerintah untuk segera melepaskan cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar dan menekan harga bahan bakar.
Para analis memperkirakan, jika konflik tidak segera mereda dan jalur distribusi energi tetap terganggu, harga minyak dunia berpotensi menembus 130 dolar AS per barel.
Tekanan ini di perkirakan akan berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan gangguan logistik global.***
JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…
JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…
Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…
JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…
JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…
MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…