JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Di tengah geliat bisnis penerbangan eksekutif, nama Dewi Lin muncul sebagai figur baru yang mencuri perhatian. Bukan selebritas, bukan pula pengusaha. Ia seorang pramugari private jet freelance, yang dikenal lewat profesionalisme, ketenangan, dan penampilan anggunnya—tiga hal yang kini seolah menjadi identitas dirinya.
Sebuah foto yang beredar menampilkan Dewi berdiri di depan pintu darurat kabin pesawat, pose sederhana namun memancarkan disiplin khas awak kabin. Namun bagi Dewi, dunia penerbangan bukan sekadar profesi yang berseragam rapi. “Ini dedikasi penuh pada keselamatan dan layanan personal tingkat tinggi,” katanya.
Perjalanan Dewi tidak serta-merta dimulai dari kabin jet pribadi. Beberapa tahun ia habiskan di maskapai komersial sebelum memutuskan berpindah haluan ke sektor penerbangan eksklusif. Keputusan yang ia sebut sebagai “tantangan baru”.
“Di private jet, semuanya serbapersonal, detail, dan eksklusif. Itu yang membuat saya tertarik,” ujarnya.
Operator jet pribadi umumnya mencari kandidat dengan standar tinggi: etika kerja kuat, kemampuan bahasa internasional, dan pengalaman panjang dalam layanan premium. Dewi memenuhi persyaratan itu. Sebagai freelancer, ia tidak terikat satu perusahaan mana pun—ia bisa dipanggil kapan saja oleh operator charter, pemilik jet, atau manajemen penerbangan korporat.
“Sering kali saya harus siap dalam hitungan jam. Pagi dapat panggilan, siang sudah harus terbang ke luar negeri,” tuturnya.
Bekerja Secara Sendiri Tanpa Kru Tambahan
Di balik fleksibilitas itu, beban kerja seorang pramugari private jet jauh dari ringan. Ia bekerja sendirian tanpa kru tambahan—semua persiapan di tanganinya sendiri: pemeriksaan kabin, pengaturan katering, hingga memastikan kenyamanan penumpang VIP selama penerbangan.
Satu keterampilan penting yang wajib di miliki awak kabin jet pribadi adalah penyajian makanan. “Penumpang private jet sering punya permintaan khusus. Saya harus bisa cooking preparation, plating mewah, dan menata kabin seperti hotel butik di udara,” ujarnya.
Di luar itu, ada satu aturan tak tertulis yang tak boleh di langgar: menjaga kerahasiaan penumpang. Dewi mengaku pernah melayani pengusaha, pejabat, hingga selebritas, namun satu pun tak pernah ia sebut identitasnya.
Kepada perempuan muda yang ingin terjun ke dunia penerbangan eksklusif, Dewi memberi saran: “Latih bahasa Inggris, pelajari hospitality kelas atas, dan jangan terburu-buru. Mulailah dari komersial dulu. Pengalaman adalah investasi terbesar.”
Dewi kini berencana melanjutkan pendidikan di bidang manajemen hospitality penerbangan, dengan harapan suatu hari bisa menjadi pelatih pramugari baru.
Di tengah meningkatnya permintaan private jet di Asia Tenggara, figur seperti Dewi Lin hadir sebagai representasi awak kabin modern—anggun, cekatan, dan adaptif pada standar layanan yang semakin premium. Meski bekerja di balik pintu kabin yang tertutup rapat, kisahnya menunjukkan bahwa profesionalisme tetap menjadi modal utama di langit komersial maupun eksklusif.(Tim)














