Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS berkata: “Abah mah teu boga naon-naon, teu bisa naon-naon, teu hayang naon-naon” (Abah tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak mau/ingin apa-apa.
Makin banyak keinginan, makin jauh kita dari apa yang kita inginkan. Hal ini seperti riwayat dialog antara Nabi Musa as. dengan Alloh SWT. Setiap pernyataan keinginan Nabi Musa atas umatnya, selalu tidak terpenuhi.
Saat Nabi Musa menerima kitab Taurat dari Alloh SWT, dia bertanya kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, dalam kitab Taurat di jelaskan ada umat terakhir tapi kelak memasuki surga paling awal. Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat juga di jelaskan tentang umat terbaik yang selalu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dan beriman kepada Alloh. Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat di jelaskan tentang umat yang mengimani kitab suci terdahulu dan kitab suci terakhir. Mereka memberantas kesesatan dan memerangi Dajjal. Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat di jelaskan tentang umat yang telah hafal dan memahami benar-benar kandungan kitab-kitab Injil (berbeda dengan umat lainnya yang tidak memiliki kemampuan demikian). Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat di jelaskan tentang umat yang ketika bersedekah, maka sedekah mereka bisa di makan penerimanya dan pemberinya mendapat pahala (berbeda dengan umat sebelumnya yang jika bersedekah dan di terima oleh Alloh SWT, maka Alloh menurunkan api untuk membakar sedekahan itu sehingga tidak bisa dinikmati). Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat di jelaskan tentang umat yang ketika berniat melakukan satu kebaikan kemudian mengurungkannya, maka mereka tetap memperoleh satu pahala. Jika merealisasikan niat baiknya, mereka akan memperoleh pahala sepuluh kali lipat, tujuh puluh kali lipat, hingga balasan yang tak terhitung. Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat di jelaskan tentang umat yang ketika berniat melakukan perbuatan buruk lalu mengurungkannya, maka mereka sama sekali tidak mendapat dosa. Jika mereka tidak merealisasikannya maka hanya mendapat satu dosa. Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Musa: “Di dalam Taurat di jelaskan tentang umat yang doa-doanya di kabulkan. Aku berharap mereka adalah umatku.”
Alloh SWT: “Mereka adalah umat Muhammad.”
Setelah dialog itu selesai, Nabi Musa akhirnya menyatakan diri sebagai umat Nabi Muhammad. “Ya Alloh, kalau demikian, jadikanlah aku sebagai umat Muhammad.”
Alloh kemudian memberikan Nabi Musa dua hal, yaitu menjadikannya sebagai utusan yang mampu berbicara dengan-Nya tanpa perantara dan sebagian umatnya ada yang mendapat petunjuk serta mampu berbuat adil. (Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Durrul Mantsur, (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 2015), juz III, halaman 227).
JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…
Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…
JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…
JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…
MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…
JAKARTA, Signalberita.com – Atari kembali menunjukkan eksistensinya di industri gim global setelah berhasil mencatatkan kinerja…