Ilustrasi
SIGNALBERITA.COM – Kalau kita bicara tentang guru, guru itu bukan sekadar orang yang berdiri di depan kelas, bukan sekadar menulis di papan tulis dengan kapur atau spidol. Guru itu adalah tiang hidup negeri ini, tempat anak-anak menggantungkan cita-cita mereka yang besar.
Coba bayangkan suasana di kampung. Ada guru yang tiap pagi jalan kaki jauh, melewati jalan tanah becek, kadang harus seberangi sungai dengan rakit bambu, demi sampai di sekolah kecil yang dindingnya dari papan, atapnya seng bocor.
Terkadang melewati gunung yang jalan naik turun bukit, dengan sandal putus, bawa tas lusuh penuh buku. Ada guru di pesisir, yang harus kayuh perahu kecil di laut ombak besar, hanya supaya anak-anak bisa belajar. Semua itu mereka lakukan dengan hati yang tulus, dengan senyum yang tidak pernah padam, walaupun gaji mereka kecil dan hidup mereka pas-pasan.
Guru itu seperti lilin, rela terbakar habis hanya supaya anak-anak bisa dapat terang. Dan juga seperti pelita di malam gelap kampung, kecil nyalanya tapi cukup untuk menerangi hati. Guru itu seperti akar pohon kelapa, diam di tanah, tidak kelihatan, tapi dari situlah pohon bisa berdiri kokoh dan berbuah lebat.
Guru itu seperti mata air di gunung, walau kecil, ia terus mengalir, memberi hidup bagi sawah, ladang, ternak, dan manusia.
Kita semua pernah duduk di kelas, pernah merasakan tangan guru menepuk pundak kita sambil berkata: “Kamu bisa, nak.” Kita pernah di tegur karena nakal, pernah disuruh ulangi pelajaran karena salah hitung, pernah dipuji saat bisa menjawab dengan benar.
Semua kenangan itu adalah bagian dari perjalanan kita. Tanpa guru, tidak ada dokter, tidak ada insinyur, tidak ada nelayan yang bisa hitung jaringnya, tidak ada petani yang bisa baca kalender musim, tidak ada pejabat, bahkan tidak ada kita semua yang hari ini bisa membaca tulisan ini.
Guru itu orang yang paling ikhlas. Dia berdiri di depan murid-muridnya bukan karena harta, tapi karena cinta. Lihatlah di wajah mereka, walau letih, walau bajunya lusuh, ada cahaya harapan yang mereka tanam di setiap mata anak-anak bangsa. Dari bibir merekalah kita kenal huruf pertama, dari tangan merekalah kita tulis kata pertama, dari suara merekalah kita mengerti arti mimpi.
Dan kalau hari ini ada suara-suara miring tentang guru, biarlah kita tidak usah larut di dalamnya. Sebab guru tetaplah guru, tetap pahlawan yang sejati. Mereka tidak butuh gelar panjang untuk disebut mulia. Cukup lihat satu hal sederhana: berapa banyak anak kampung yang bisa bangkit dari kegelapan karena ada seorang guru yang sabar menuntun mereka.
Saya pun, menulis ini sambil teringat wajah guru-guru kampung saya dulu. Mereka mengajar dengan papan tulis hitam penuh debu kapur, dengan kursi goyang yang sudah patah kakinya, dengan senyum yang kadang tersembunyi di balik lelah. Tapi dari tangan mereka, saya bisa membaca, bisa menulis, bisa bermimpi.
SUNGAIPENUH, SIGNALBERITA.COM – Tradisi adat Kenduri Sko Karang Setio TAP di wilayah Depati Dua Nenek,…
SIGNALBERITA.COM - Honda ADV160 kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu skutik petualang paling di minati…
SIGNALBERITA.COM - Ramuan bawang putih dan madu di kenal dalam pengobatan tradisional dan sering di…
SIGNALBERITA.COM - Muncul benjolan berisi nanah sering kali menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman pada…
SIGNALBERITA.COM – Arsenal di pastikan menghadapi Atletico Madrid di babak semifinal Liga Champions. Meski sempat…
SIGNALBERITA.COM - Persaingan motor listrik di Indonesia kian panas pada 2026. Dua nama yang paling…