Hutan Berganti Sawit dan Krisis Iklim Mengancam di Sumatra

SIGNALBERITA.COM – Perubahan bentang alam di Sumatra kembali menjadi sorotan setelah berbagai wilayah di landa banjir bandang pada akhir November 2025. Penelitian terbaru dari University of Massachusetts Amherst menguatkan dugaan lama: konversi hutan hujan tropis menjadi perkebunan kelapa sawit tidak hanya menggerus keanekaragaman hayati, tetapi juga mengganggu stabilitas daerah aliran sungai (DAS) dan memperburuk krisis iklim.

Studi yang di publikasikan dalam Science of the Total Environment pada 2024 itu menyoroti Daerah Aliran Sungai Kais di Papua Barat, kawasan seluas 1.600 kilometer persegi yang di huni komunitas adat dan kini seperempatnya telah berubah menjadi kebun sawit. Penelitian yang di lakukan Briantama Asmara dan profesor konservasi lingkungan, Timothy Randhir, menemukan peningkatan drastis dalam limpasan air, curah hujan lokal, hingga lonjakan polutan di aliran sungai.

Hutan Berganti Sawit dan Krisis Iklim Mengancam

Krisis Iklim Sumatra

Model hidrologi yang mereka gunakan—Soil and Water Assessment Tool (SWAT+)—memperlihatkan perubahan mencolok sejak ekspansi sawit di mulai. Sedimentasi naik 16,9 persen, konsentrasi nitrogen melonjak 78,1 persen, dan fosfor 144 persen. Meski skenario masa depan memprediksi sedikit penurunan, kualitas air DAS tetap jauh lebih buruk di banding masa ketika kawasan masih berupa hutan primer.

“Informasi soal pestisida, irigasi, hingga limpasan umumnya di miliki perusahaan, namun tak pernah sampai ke masyarakat yang terdampak di hilir,” kata Asmara. Ia menyebut penelitian ini di lakukan untuk mengisi kekosongan data publik yang mempengaruhi kehidupan banyak komunitas.

Di Indonesia, temuan ini sejalan dengan peringatan para peneliti iklim. Peneliti BRIN, Prof. Erma Yulihastin, sejak awal tahun telah menegaskan bahwa perubahan hutan menjadi kebun sawit dapat menaikkan suhu udara hingga 6,5°C, berdasarkan riset di Borneo. Peningkatan suhu itu terasa dalam siklus harian dan mempengaruhi cuaca lokal secara langsung.

“Hutan jadi kebun sawit dapat mengubah iklim mikro secara signifikan,” tulis Erma dalam sebuah unggahan di platform X.

Kerusakan hutan di hulu sendiri di tengarai menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir bandang di Sumatra. Minimnya penyangga air, perubahan struktur tanah, hingga rusaknya biomassa alami yang sebelumnya menyerap curah hujan ekstrem menjadi rangkaian penyebab yang sulit di hindari ketika lahan berubah fungsi.

Di tengah perdebatan mengenai rencana perluasan perkebunan sawit untuk kepentingan ekspor, temuan-temuan ilmiah tersebut kembali menegaskan risiko besar yang tengah di hadapi: memburuknya kualitas air, terganggunya DAS, dan ancaman perubahan iklim yang semakin ekstrem.(Tim)

Redaksi SB

Recent Posts

Persaingan Makin Panas, Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…

2 jam ago

Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026, Suguhkan Motor Retro

JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…

3 jam ago

Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu yang Berdasarkan Bulan Kelahiran

Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…

4 jam ago

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…

6 hari ago

Jangan Lewatkan Leg Day, Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kebugaran

JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…

6 hari ago

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…

6 hari ago