SIGNALBERITA.COM – Sungai Batang Merao merupakan Sungai yang terpanjang di kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh, provinsi Jambi dengan memiliki panjang sekitar 53.63 Kilometer.
Beberapa pekan terakhir, Sungai Batang Merao, menjadi perhatian publik, karena mulai di lakukan Normalisasi. Setiap warga yang melintas pun melihat aktivitas normalisasi oleh Eskavator.
Namun, tidak banyak yang mengakui asal usul dari Sungai Batang Merao tersebut. Mau mengetahui asal usul simak ceritanya.
Pada zaman dahulu kala di pinggiran sungai yang besar di Negeri Antau Jauh, hiduplah sepasang suami isteri dengan seorang anak semata wayangnya. Kehidupan mereka begitu damai, setiap hari suami-istri tersebut hidup bercocok tanam, sedangkan anaknya bekerja seraya memancing ikan di sungai besar yang mengalir deras airnya.
Rumah mereka memang agak terpencil dari rumah para penduduk desa Jambu Alo. Sungai yang besar tersebut banyak mengandung Ikan, Siput, dan Tengkuyung (Siput panjang). Memang sungai tersebut merupakan sarana bagi penduduk untuk mengambil ikan untuk di konsumsi dan di jual.
Kehidupan sepasang suami istri tersebut kian hari makin harmonis dan rukun. Anak semata wayang mereka begitu elok dan baik hati. Semua masyarakat dusun Jambu Alo waktu itu begitu senang bergaul dengannya.
Memang, di dalam Al-qur’an Allah menegaskan bahwa : “Apakah kamu kira kami membiarkan saja kamu mengatakan “kami telah beriman” sedangkan tidak di uji lagi?” kira-kira begitu salah satu bunyi Firman Allah.
Untung tak dapat di raih, malang tak dapat di elakkan, suatu hari, hujan begitu deras dari pagi, sementara si anak yang bernama Bujang Rahman asyik memancing ikan di pinggir sungai besar tersebut. Karena memang, di waktu hujan, memancing di sungai tersebut sangat mudah mendapatkan ikan.
Sedang asyiknya memancing, Bujang Rahman tidak menyadari bahwa air bah, atau air besar dari hulu begitu deras memporak-porandakan pinggiran sungai. Air mengaum bersama pepohonan yang tumbang, Bujang Rahman terkesiap, dan berusaha menyelamatkan diri, namun malang baginya, kakinya terpeleset dan tersambar air bah.
Sementara ayah dan ibunya yang melihat ketika akan memanggilnya pulang, menjerit histeris menyaksikan buah hati belahan jantung, anak semata wayang yang di kasihi terseret dan hilang di dalam air bah yang datang. Ibunya menangis meraung-raung seraya menjambak rambutnya hingga berguguran helai demi helai. Sedangkan si ayah terjun ke sungai untuk mencari anaknya.
Ketika hujan reda, penduduk mendengar suara jeritan dan ratapan istrinya di pinggir sungai yang menggaung. Lalu penduduk pun berlari kesana dan menyaksikan si ibu yang menangis meratapi sungai seraya meraung, menjerit dan meratapi suami dan anaknya yang telah hilang ditelan gelombang.
Tujuh hari tujuh malam, penduduk mencari menelusuri sungai tersebut, namun tiada ditemukan jejaknya. Si ibu selama itu terus menangis meraung-raung hingga suaranya hilang.
Pada suatu malam si ibu bermimpi bahwa anaknya telah berubah menjadi seekor Ikan Semah bermata merah yang besar, ia berkata kepada ibunya “Ibu, kalau engkau ingin menemui ku, datanglah ke sungai pada tiap malam jum’at dan taburkanlah beras kunyit, aku akan datang padamu, bawalah jala atau tangguk dan ambilah ikan di belakangku untuk menghidupi ibu”.
Begitulah, tiap malam jum’at si ibu datang ke sungai memanggil anaknya dan membawa ikan-ikan di belakang anaknya. Namun aneh, setiap kali ia memanggil anaknya, sungai bergemuruh atau meraung bunyinya.
Suatu ketika, seorang penduduk memancing di sungai dan mendapat ikan semah besar bermata merah. Ia kegirangan, namun tengkuknya bergidik, karena ketika ia mendapat ikan tersebut, air begitu deras dan meraung-raung bunyinya. Anehnya lagi, ketika ikan tersebut digantung di dapur, ia makin lama bertambah panjang.
Si Ibu yang mendengar keanehan tersebut berlari menghampiri rumah penduduk tersebut dan berkata agar ikan semah mata merah tersebut di kembalikan ke sungai karena ikan tersebut adalah jelmaan dari anaknya Bujang Rahman.
Penduduk pun sepakat untuk mengembalikannya ke sungai, dan setiap kali apabila ikan tersebut kena pancing, ia akan kembali memanjang dengan kesendiriannya, dan penduduk pun akan melepaskannya kembali.
Setiap malam jum’at, dan ketika ikan semah bermata merah kena pancing, suara sungai begitu aneh, seakan-akan meraung meratapi sesuatu. Dan mulai saat itu penduduk menamainya dengan sungai Batang Meraung. Namun lama kelamaan, kata meraung berubah menjadi “merao” atau “marawa” atau sungai ratapan.***
JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…
JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…
Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…
JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…
JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…
MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…