Lo Kheng Hong Ungkap Penyebab Saham Big Bank Tertekan, Investor Asing Mulai Jual Saham

JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Sejumlah Saham perbankan yang besar saat ini berada dalam tekanan. Beberapa emiten bank papan atas seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga BBNI mengalami penurunan harga cukup tajam seiring derasnya aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia.

Data perdagangan menunjukkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi hingga 39,18 persen dalam setahun terakhir. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 28,40 persen, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 24,40 persen, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 16,37 persen.

Tidak hanya harga saham yang melemah, arus dana asing keluar (net sell) juga tercatat sangat besar. Investor asing melepas saham BBCA senilai Rp47,71 triliun. Kemudian saham BBRI di lepas Rp14,08 triliun, BMRI Rp14,81 triliun, dan BBNI sebesar Rp3,23 triliun sepanjang satu tahun terakhir.

Investor Asing Di sebut Khawatir Risiko Nilai Tukar Rupiah

Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), mayoritas saham bank besar masih bergerak di zona merah. Saham BBCA turun 0,84 persen ke level Rp5.900, BMRI melemah 1,20 persen ke Rp4.120, dan BBNI terkoreksi 0,53 persen ke Rp3.780. Di sisi lain, saham BBRI masih mampu menguat tipis 0,99 persen ke level Rp3.050.

Investor senior Lo Kheng Hong menilai pelemahan saham-saham bank besar bukan di sebabkan oleh memburuknya fundamental perusahaan. Menurutnya, kinerja emiten perbankan besar sejauh ini masih tergolong solid dan stabil.

“Perusahaannya bagus, kinerjanya tidak turun, tetapi harga sahamnya turun karena dijual investor asing,” ujar Lo Kheng Hong dalam Seminar Investasi dan Keuangan yang diunggah di kanal YouTube GBITasikWorship.

Pria yang akrab di sapa Pak Lo tersebut menduga investor asing tengah mengkhawatirkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat atau currency risk. Kondisi tersebut di nilai dapat mengurangi keuntungan investor asing saat mengonversi dana mereka kembali ke dolar AS.

Ia mencontohkan, investor asing yang membeli saham ketika kurs dolar masih berada di kisaran Rp14 ribu kini harus menghadapi kurs yang jauh lebih tinggi saat ingin menukar rupiah kembali menjadi dolar AS.

“Mungkin mereka takut risiko mata uang. Dulu beli saham saat dolar Rp14 ribu, sekarang kalau kembali ke dolar harus beli di atas Rp17 ribu,” jelasnya.

Meski demikian, Lo Kheng Hong menegaskan alasan tersebut masih berupa perkiraan. Menurutnya, keputusan investor asing menjual saham di pengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global hingga sentimen pasar keuangan internasional.***

Redaksi SB

Recent Posts

Persaingan Makin Panas, Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…

2 jam ago

Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026, Suguhkan Motor Retro

JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…

3 jam ago

Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu yang Berdasarkan Bulan Kelahiran

Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…

4 jam ago

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…

6 hari ago

Jangan Lewatkan Leg Day, Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kebugaran

JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…

6 hari ago

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…

6 hari ago