Ilustasi
Sebelum pecahnya perang Banjar Barito (1859-1906), di Marabahan telah di diri kan sebuah benteng Belanda, dengan komandannya bernama Letnan Hausler, yang di angkat pada 1 Januari 1849, Haji Matarip (Muhammad Arif), seorang tokoh masyarakat, saat itu di kenal sebagai seorang tokoh dan pedagang yang kaya.
Orang-orang yang iri bersama kaki tangan Belanda kemudian membisikkan kepada Hausler bahwa Haji Matarip adalah seorang yang berbahaya karena ia dekat dengan Sultan Adam di Martapura dan sering menemui Sultan di istananya di Martapura. Haji Matarip yang taat beragama di katakan anti Belanda.
Merasa kuat, Letnan Hausler pada 13 Januari 1849 melakukan penyerangan ke rumah Haji Matarip, saat sedang shalat Maghrib berjamaah di rumahnya, Letnan Hausler langsung menyerbu dan menebasnya dengan pedang, namun tetap begeming, beliau tetap khusyu’ dalam shalat dan wiridnya Hanya anaknya yang bernama Matali langsung mengambil mandau dan menebaskan ke tubuh Hausler sehingga jatuh dan Terpental tetapi tidak luka, karena Hausler memakai baju Besi Ketika itu terjadi perkelahian seru di sekitar rumah Haji Matarip.
Begitu Haji Matarip selesai wirid dan doanya, barulah ia bangkit, di ambilnya badik jambia di atas sajadah yang di- dudukinya, kemudian di lemparkan kepada anaknya Matali (Muhammad Ali), sambil memerintahkan agar badik itu dí tusukkan ke ketiak Hausler, jangan ke bagian tubuh lain. Matali berhasil menusuk Letnan Hausler, sehingga ia terluka parah sambil meraung keras, akhirnya tewas di tempat. Malam hari itu juga mayat Hausler di tenggelamkan di sungai Barito di depan Masjid al-Anwar, di sertai pemberat dari besi dan kayu ulin agar tidak mengapung.
Peristiwa itu langsung membuat gempar pemerintah dan tentara Belanda, baik di Marabahan maupun Banjarmasin. Menyadari akan adanya aksi balas dendam dari Belanda, Matarip sekeluarga langsung mengungsi ke Sungai Kuatik di seberang Kota Bakumpai. Besoknya, rumah Haji Matarip habis di bakar oleh Belanda. Sementara beberapa harta berharga sempat diselamatkan oleh Haji Matarip.
Di Sungai Kuatik Haji Matarip dan pengikutnya membangun benteng, beberapa rumah di beri pagar tinggi dari kayu ulin dan ilayung, di lengkapi senjata seperti mandau, tombak, keris, badik, sumpitan, juga senjata api dan mesiu yang di beli secara sembunyi-sembunyi.
Selanjutnya berdatanganlah para simpatisan yang ingin ikut berjuang, dari kalangan suku Dayak Barito Hulu dan dari masyarakat Banjarmasin. Ternyata benteng ini tidak pernah lagi di serang oleh Belanda, karena mereka menyadari risiko yang akan di tanggung.
Sejak peristiwa itu kehidupan Haji Matarip terus merosot, karena perdagangan tidak lagi dapat di lakukan secara normal, dan banyak orang takut berhubungan dagang dengan beliau, takut di anggap bersekongkol untuk melawan Belanda.
Akhirnya keluarga ini memutuskan berpindah ke hulu Sungai Barito, di ikuti banyak pengikutnya, di antaranya Panglima Tandum Patianum dari Suku Dayak Siang. Setelah lebih seminggu di perjalanan, mereka akhirnya tiba di kampung Mangkahui,
hulu Kota Puruk Cahu (ibukota Kebupatian Murung Raya sekarang), yang kala itu baru di huni sedikit keluarga dari Dayak Murung dan Dayak Siang.
Kedatangan mereka di terima dengan suka cita oleh masyarakat setempat, karena masih ada hubungan kekeluargaan, sesama turunan Ngabehi Lada, seorang penggawa Sultan Banjar yang menyingkir ke sana.
kemudian jenazahnya di bawa untuk di makamkan di Bakumpai (Marabahan). Perjuangan keluarga ini kemudian di pimpin oleh putranya Haji Matamin (Muhammad Amin), bersama saudaranya Matali (Muhammad Ali).
Mereka merekrut banyak pemuda pejuang dari Suku Dayak Murung, Dayak Siang, Dayak Bawu Malungai, Dayak Lawangan, dan Dayak Maanyan. Mereka di latih bela diri dan latihan berperang, baik dengan tangan kosong maupun menggunakan senjata tradisional dan semi modern saat itu seperti senapan. Bagi yang beragama Islam di berikan bimbingan agama.
Menurut Amri Rasyidi, ketika pecah perang Banjar, mereka semua terlibat aktif dalam berbagai pertempuran. Ketika Sultan Hidayatulah II di buang Belanda, para pejuang, rakyat dan kepala suku kemudian menobatkan Pangeran Antasari sebagai Sultan.
Perjuangan beliau di bantu oleh Matamin, Matali, Temenggung Surapati, Trmenggung Tandum Patianum, Temenggung Silam dan Temenggung Suta Ono (Silam dan Suta Ono belakangan memihak Belanda),
Dari daerah Teweh ini para pejuang yang di pimpin Pangeran Antasari dan dua bersaudara Matamin dan Matali mengatur siasat untuk mengalahkan Belanda. Matali mengusulkan kepada Pangeran Antasari, agar seorang pengikutnya yaitu TemenggungbSurapati di jadikan sebagai juru runding, sebab ia cerdik dan pandai berbicara dan orang kepercayaan jauh sebelum perang Banjar meletus.
Kepada Surapati di nasihati oleh Kiai Masdipati agar dalam perundingan pura-pura ikut Belanda dan jangan sampai mau di ajak mabuk-mabukan. Dalam perundingan, Surapati menyatakan kesediaannya ikut Belanda dan berjanji menyerahkan Antasari kepada Belanda.
Merasa sukses dengan hasil perundingan, tentara Belanda di kapal Onrust mengadakan pesta pora, makan-makan enak dan minum minuman keras,Saat tentara Belanda terlena itulah pasukan pejuang membantai habis tentara Belanda, termasuk komandannya Letnan Bangert dan Van der Velde. Sebagaimana di ceritakan terdahulu, Kapal Onrust di tenggelamkan pada 26 Desember 1859, dan peristiwa ini menjadi kekalahan terbesar, yang sangat merugikan dan memalukan Belanda.
Setelah Pangeran Antasari wafat karena sakit pada Oktober 1862, Belanda mengira Kesultanan Banjar dan perlawanan sudah habis. Ternyata setelah 28 hari masa berkabung, para pejuang yang menjadi pengikut Antasari pada 11 November 1862 mengangkat putranya Gusti Mat Seman / Gusti Muhammad Seman
Sebagai Sultan Banjar. Perjuangan di bawah kepemimpinan Muhammad Seman ternyata tetap kuat. Terbukti beliau mampu berkuasa dan bertahan hingga wafatnya 43 tahun kemudian.
Tokoh berpengaruh di belakang Pangeran Antasari dan Sultan Muhammad Seman adalah Kyai Di pati Jaya Raja, yang di mata Belanda
identik dengan Surapati, karena Belanda tidak begitu detil mengetahui nama-nama pimpinan perjuangan, dan tokoh pejuang pun tidak terlalu ingin di kenal supaya tidak mudah di tangkap Belanda.
Tetapi sebenarnya orang itu adalah Masdipati, yang keturunannya di Banjarmasin memiliki stempel bertulisankan nama beliau dalam tulisan Arab Melayu. Di masa Pangeran Antasari, Matali bergelar Masdipati atau Kyai Dipati Jaya Raja.***
JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…
JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…
Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…
JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…
JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…
MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…