SIGNALBERITA.COM – Pada malam tanggal 1 Oktober 1969, menjadi bukti kekejaman Gerakan 30 September (G30S/PKI), terhadap pembunuhan Enam Jendral dan Satu Perwira Tinggi TNI AD.
Di tengah kekejaman dari peristiwa G30S/PKI tersebut, muncul sebuah kisah luar biasa tentang keberanian dan takdir yang menyelamatkan satu nyawa, yaitu Sukitman.
Nama itu adalah Sukitman, seorang Agen Polisi Tingkat II yang secara tidak sengaja menjadi saksi kunci kekejaman yang terjadi di Lubang Buaya.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa Sukitman tidak di bunuh bersama para jenderal, padahal ia termasuk salah satu orang yang di tawan?
Jawabannya ternyata bukan sekadar kebetulan, melainkan gabungan dari tiga faktor krusial: statusnya yang di anggap tidak penting, keberanian yang lahir dari hati nurani, dan takdir yang membawanya menjadi penunjuk jalan bagi pengungkapan sejarah.
Keterlibatan Sukitman dalam tragedi G30S di mulai dari sebuah ketidaksengajaan.
Sebagai seorang polisi muda yang baru dua tahun bertugas, Sukitman sedang berpatroli rutin di sekitar Blok M, Jakarta, pada dini hari nahas itu.
Sekitar pukul 03.00 WIB, suara tembakan yang memecah keheningan malam menarik perhatiannya ke arah kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan.
Didorong oleh naluri sebagai aparat, Sukitman mengayuh sepedanya menuju sumber suara.
Namun, keberaniannya justru membawanya ke dalam pusaran peristiwa.
Sukitman di hadang oleh pasukan berseragam loreng, di todong senjata, dan langsung di tawan.
Sukitman turut di angkut bersama Mayjen DI Pandjaitan ke Lubang Buaya, dalam keadaan mata tertutup dan tangan terikat. Peristiwa itu menjadikan Sukitman sebagai salah satu saksi hidup peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh perwira TNI AD.
Sebagai saksi hidup, keberadaan Sukitman tentunya dapat menjadi ancaman bagi para pelaku G30S. Oleh karena itu, Sukitman sebenarnya juga hendak di bunuh di Lubang Buaya, tetapi di cegah oleh Ishak Bahar.
Ishak Bahar adalah seorang Sersan Mayor dari Batalion Cakrabirawa yang di tugaskan untuk menjaga Lubang Buaya oleh Letkol Untung, pemimpin Batalion I Cakrabirawa. Ketika para pasukan Cakrabirawa sibuk mengurusi jenazah jenderal TNI AD, Ishak meminta Sukitman bersembunyi di dalam mobil jip agar tidak di tembak.
Karena itulah Sukiman bisa selamat dan lolos dari eksekusi dari kekejaman G30S/PKI. Sukiman menjadi saksi kunci penemuan jasad Jendral dalam lubang buaya.
Berdasarkan informasi Sukitman, tim menemukan tumpukan tanah dan sampah di kebun karet Lubang Buaya. Tim menggali lokasi itu dan menemukan sumur tua. Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sempat menghentikan penggalian karena kesulitan teknis. Keesokan harinya, Soeharto memimpin KKO-AL dan RPKAD menggali kembali lokasi itu dan menemukan jenazah korban.
Atas jasa-jasanya, Sukitman mendapatkan kenaikan pangkat dari sebelumnya Ajun Komisaris Polisi (AKP) menjadi Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP). Ia bertugas di Polri sejak 1963 hingga pensiun pada 1998. Sukitman meninggal pada 2007 dalam usia 64 tahun, di Depok, Jawa Barat.***
JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…
Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…
JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…
JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…
MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…
JAKARTA, Signalberita.com – Atari kembali menunjukkan eksistensinya di industri gim global setelah berhasil mencatatkan kinerja…