LOMBOK TIMUR, Signalberita.com — Seekor ikan aneh yang di sebut dengan Ikan oarfish atau ikan dayung yang berukuran sekitar 4 meter di temukan terdampar dalam kondisi mati di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (25/8/2026).
Penemuan oarfish kembali memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat, terutama narasi yang mengaitkan kemunculan ikan tersebut dengan kemungkinan terjadinya gempa bumi atau tsunami.
Namun, secara ilmiah, kemunculan oarfish di perairan dangkal maupun terdampar di pantai tidak dapat di jadikan indikator akan terjadinya gempa atau tsunami.
Oarfish dan Mitos Pertanda Bencana
Oarfish atau Regalecus glesne merupakan ikan laut dalam yang dalam budaya Jepang di kenal dengan sebutan Ryugu no Tsukai, yang berarti utusan dari istana dewa laut.
Legenda tersebut membuat oarfish kerap di kaitkan dengan pertanda bencana alam. Anggapan itu kembali menjadi perhatian setelah sejumlah oarfish di temukan sebelum gempa besar Tohoku, Jepang, pada 2011.
Meski demikian, kemunculan oarfish dan gempa bumi tidak memiliki hubungan sebab-akibat yang telah terbukti secara ilmiah.
Sebuah studi yang di terbitkan pada 2019 dalam Bulletin of the Seismological Society of America menganalisis 363 penampakan ikan laut dalam dan 221 gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 atau lebih di Jepang selama periode 1928 hingga 2011.
Hasil penelitian tersebut tidak menemukan bukti kuat bahwa kemunculan ikan laut dalam dapat di gunakan untuk memprediksi gempa bumi.
Dengan demikian, oarfish yang terdampar sebaiknya di pandang sebagai fenomena biologis dan oseanografi, bukan sebagai tanda pasti akan terjadinya gempa atau tsunami.
Mengapa Oarfish Bisa Terdampar?
Oarfish merupakan ikan laut dalam yang umumnya hidup di zona mesopelagik, pada kedalaman ratusan meter dari permukaan laut.
Ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan ikan tersebut muncul di perairan dangkal atau akhirnya terdampar. Di antaranya kondisi ikan yang sakit, terluka, sudah tua, atau mengalami disorientasi.
Selain itu, perubahan kondisi oseanografi seperti arus laut, gelombang kuat, upwelling, serta perubahan suhu dan tekanan air juga dapat memengaruhi pergerakan ikan laut dalam.
Karena itu, satu kejadian oarfish terdampar tidak dapat langsung di kaitkan dengan aktivitas tektonik di suatu wilayah.
Fenomena serupa juga pernah di laporkan di sejumlah wilayah lain tanpa di ikuti gempa besar, sehingga kemunculan ikan tersebut bukan indikator yang dapat di andalkan untuk memprediksi bencana.
Ikan Bertulang Terpanjang di Dunia
Oarfish memiliki bentuk tubuh yang sangat panjang dan dapat mencapai ukuran beberapa meter. Spesies ini di kenal sebagai salah satu ikan bertulang sejati terpanjang di dunia.
Meski memiliki penampilan menyerupai makhluk mitologi atau naga laut, oarfish bukan ikan yang berbahaya bagi manusia. Ikan ini tidak di kenal memiliki gigi tajam dan umumnya memakan organisme berukuran kecil seperti plankton, krustasea serta hewan laut kecil lainnya.
Penemuan oarfish di Pantai Pink Lombok Timur pun menjadi fenomena alam yang menarik untuk di amati. Namun, masyarakat di imbau tidak langsung mempercayai informasi yang mengaitkan kemunculan ikan tersebut dengan gempa bumi atau tsunami tanpa dasar ilmiah.
Informasi terkait potensi gempa dan tsunami sebaiknya merujuk pada keterangan resmi dari lembaga berwenang seperti BMKG.
Dengan demikian, kemunculan oarfish di Pantai Pink Lombok Timur tidak dapat di jadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa gempa bumi atau tsunami akan segera terjadi.(*)




















