JAKARTA SB– Penjualan sepeda motor listrik di Indonesia belum menunjukkan pertumbuhan sepesat mobil listrik. Sejumlah tantangan, mulai dari jarak tempuh, waktu pengisian baterai, hingga nilai jual kembali, di nilai masih menjadi pertimbangan konsumen sebelum beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).
Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Yosef Utama, mengungkapkan terdapat empat tantangan utama yang di hadapi industri sepeda motor listrik, yakni kinerja kendaraan, kenyamanan penggunaan, nilai jual kembali, serta tingginya biaya baterai.
Menurut Yosef, karakteristik penggunaan sepeda motor di Indonesia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penerimaan kendaraan listrik. Sepeda motor tidak hanya di gunakan untuk perjalanan rutin, seperti berangkat kerja, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan keluarga dan perjalanan jarak jauh.
“Motor di Indonesia bersifat multiguna,” ujar Kamis (15/10/2026).
Kondisi tersebut membuat konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga pembelian. Kemampuan kendaraan memenuhi beragam kebutuhan, kemudahan pengisian daya, serta biaya kepemilikan dalam jangka panjang juga menjadi pertimbangan penting.
Berdasarkan data distribusi Kementerian Perindustrian yang diolah AISI, distribusi sepeda motor listrik nasional secara kumulatif hingga Agustus 2026 tercatat sekitar 50.500 unit. Sementara itu, total penjualan motor listrik sepanjang 2026 di proyeksikan mencapai 76.100 unit.
Meski pasar mulai berkembang, pangsa motor listrik dari anggota AISI masih tergolong kecil. Industri pun menghadapi tantangan untuk menghadirkan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan mobilitas masyarakat Indonesia.
Jarak Tempuh dan Waktu Pengisian Baterai
Tantangan pertama berkaitan dengan kinerja kendaraan, khususnya jarak tempuh dan durasi pengisian baterai.
Untuk penggunaan harian dengan jarak relatif pendek, kemampuan motor listrik mungkin sudah memadai. Namun, kebutuhan berbeda muncul ketika kendaraan di gunakan untuk perjalanan lebih jauh, misalnya saat akhir pekan atau mengunjungi keluarga di luar kota.
Yosef menilai motor listrik yang cukup untuk menunjang aktivitas sehari-hari belum tentu mampu memenuhi seluruh kebutuhan perjalanan penggunanya. Konsumen juga perlu memperhitungkan kemampuan kendaraan ketika melewati jalur perbukitan atau jalan menanjak.
Selain jarak tempuh, penggunaan motor secara bergantian oleh anggota keluarga turut menjadi pertimbangan. Ketika kapasitas baterai menipis, kendaraan perlu diisi ulang sebelum dapat di gunakan kembali dengan optimal.
Jika proses pengisian membutuhkan waktu cukup lama, kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas, terutama bagi keluarga yang mengandalkan satu sepeda motor untuk berbagai keperluan.
Karena itu, kenyamanan dan kepastian penggunaan atau peace of mind menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen membeli motor listrik.
Kenyamanan Penggunaan hingga Nilai Jual Kembali
Selain kemampuan teknis, kenyamanan penggunaan menjadi tantangan berikutnya. Konsumen membutuhkan kendaraan yang praktis, dapat diandalkan untuk berbagai aktivitas, serta tidak menimbulkan kekhawatiran terkait ketersediaan daya ketika hendak bepergian.
Infrastruktur pengisian daya dan kemudahan mendapatkan layanan pendukung juga dapat memengaruhi pengalaman pengguna. Keterbatasan fasilitas atau waktu pengisian yang belum sesuai dengan kebutuhan mobilitas berpotensi membuat sebagian konsumen memilih tetap menggunakan motor berbahan bakar bensin.
Faktor berikutnya adalah nilai jual kembali. Konsumen perlu mempertimbangkan harga kendaraan ketika suatu saat ingin menjual atau menggantinya dengan model baru. Kepastian kondisi baterai, biaya penggantian komponen, serta perkembangan teknologi dapat menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.
Sementara itu, biaya baterai yang relatif tinggi juga menjadi tantangan bagi industri. Baterai merupakan komponen penting dalam motor listrik sehingga harga dan biaya penggantiannya berpengaruh terhadap total biaya kepemilikan kendaraan.
Keempat persoalan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penjualan motor listrik tidak cukup hanya mengandalkan penawaran harga atau promosi. Kendaraan juga perlu mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat, di dukung infrastruktur yang memadai, serta menawarkan kepastian biaya penggunaan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, perkembangan pasar motor listrik di Indonesia akan sangat di pengaruhi oleh kemampuan industri menjawab kebutuhan konsumen, baik dari sisi performa, kepraktisan, maupun nilai ekonomis kendaraan.(*)




















