JAKARTA, Signalberita.com – Fenomena atmosfer yang telah menarik perhatian para astronom selama berabad-abad. Fenomena tersebut berada di Jupiter, planet terbesar di Tata Surya, dan dikenal sebagai Great Red Spot atau Bintik Merah Raksasa.
Great Red Spot merupakan pusaran badai bertekanan tinggi yang berputar berlawanan arah jarum jam di belahan selatan Jupiter. Fenomena ini bukanlah permukaan padat seperti daratan di Bumi, melainkan bagian dari atmosfer Jupiter yang tersusun atas lapisan gas tebal.
Ukuran badai tersebut membuatnya menjadi salah satu fenomena atmosfer paling ekstrem yang di ketahui di Tata Surya. Pada masa pengamatan sebelumnya, diameternya bahkan lebih besar daripada diameter Bumi. Namun, ukurannya terus mengalami perubahan dan cenderung menyusut dalam beberapa dekade terakhir.
Telah Diamati Selama Berabad-abad
Pengamatan terhadap fenomena seperti Bintik Merah Raksasa telah di lakukan sejak abad ke-17. Astronom Giovanni Domenico Cassini tercatat mengamati sebuah bintik di Jupiter pada 1665, meskipun para ilmuwan masih memperdebatkan apakah fenomena tersebut merupakan badai yang sama dengan Great Red Spot yang diamati pada era modern.
Great Red Spot yang di kenal saat ini telah diamati secara konsisten sejak abad ke-19. Karena itu, para ilmuwan dapat memastikan bahwa fenomena tersebut telah bertahan selama setidaknya beberapa abad.
Berbeda dengan badai di Bumi yang di pengaruhi oleh daratan dan lautan, Jupiter tidak memiliki permukaan padat seperti Bumi. Atmosfernya di dominasi hidrogen dan helium sehingga sistem cuacanya bekerja dengan mekanisme yang sangat berbeda.
Anginnya Bisa Mencapai Ratusan Kilometer per Jam
Salah satu karakteristik paling ekstrem Great Red Spot adalah kecepatan anginnya. Pengukuran dari misi dan pengamatan teleskop menunjukkan bahwa angin di sekitar badai dapat mencapai sekitar 400–600 kilometer per jam, tergantung lokasi dan metode pengukuran.
Kecepatan tersebut jauh melampaui badai tropis yang umumnya terjadi di Bumi.
Great Red Spot juga bukan sekadar pusaran yang berada di lapisan permukaan. Pengamatan menunjukkan bahwa badai tersebut menjulang jauh ke atmosfer Jupiter dan memiliki struktur vertikal yang berbeda di bandingkan awan-awan di sekitarnya.
Mengapa Warnanya Merah?
Warna merah atau jingga yang menjadi ciri khas Great Red Spot hingga kini belum sepenuhnya terpecahkan.
Salah satu penjelasan yang banyak di bahas ilmuwan adalah terjadinya reaksi kimia pada material di atmosfer bagian atas Jupiter akibat paparan radiasi ultraviolet Matahari. Senyawa yang berada di atmosfer Jupiter kemudian dapat mengalami perubahan kimia sehingga menghasilkan material berwarna kemerahan.
Namun, komposisi pasti yang menyebabkan warna khas tersebut masih menjadi objek penelitian.
Ukurannya Terus Berubah
Great Red Spot pernah memiliki ukuran yang jauh lebih besar di bandingkan sekarang. Pengamatan selama puluhan tahun menunjukkan adanya kecenderungan penyusutan ukuran badai tersebut.
Meski demikian, perubahan ukuran tidak berarti badai itu akan segera menghilang. Great Red Spot masih menjadi salah satu struktur atmosfer terbesar dan paling mudah dikenali di Jupiter.
Keberadaannya memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk mempelajari bagaimana atmosfer planet raksasa bekerja, termasuk pola angin, turbulensi, komposisi awan, serta dinamika cuaca di dunia yang sangat berbeda dari Bumi.
Jupiter sendiri berjarak ratusan juta kilometer dari Bumi dan memiliki kondisi lingkungan yang sangat ekstrem. Karena itu, mengamati Great Red Spot dari dekat masih menjadi tantangan besar bagi eksplorasi antariksa.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Tata Surya masih menyimpan banyak fenomena alam yang jauh berbeda dari apa yang kita alami di Bumi.(*)



















