JAKARTA, Signalberita.com — Harga kopi arabika di pasar global melemah pada perdagangan 17 September 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi membaiknya prospek pasokan dari Brasil, terutama setelah ekspor negara produsen kopi terbesar dunia itu menunjukkan peningkatan.
Harga arabika ICE tercatat di level US$2,8170 per pon setelah sebelumnya menyentuh US$2,8120 per pon. Posisi tersebut menjadi level terendah dalam sekitar 10 pekan terakhir.
Tekanan terhadap harga juga terjadi pada kopi robusta. Komoditas tersebut turun sekitar 1,8 persen menjadi US$3.418 per ton metrik.
Ekspor Brasil Meningkat
Penguatan pasokan Brasil menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar kopi global. Ekspor kopi hijau Brasil pada pertengahan September di perkirakan mencapai rata-rata sekitar 13.500 ton metrik per hari.
Angka tersebut meningkat sekitar 51,5 persen di bandingkan periode pembanding sebelumnya. Kenaikan volume ekspor memperkuat ekspektasi bahwa pasokan kopi di pasar global akan lebih tersedia.
Selain peningkatan ekspor, pasar juga mencermati potensi pengiriman kopi Brasil ke gudang yang tersertifikasi ICE. Jika terealisasi, pengiriman tersebut dapat membantu meningkatkan persediaan yang selama ini berada pada level rendah.
Perubahan arus pasokan membuat perhatian pasar mulai bergeser dari kekhawatiran mengenai kelangkaan menuju prospek ketersediaan kopi.
Persediaan ICE Jadi Perhatian
Meski harga berada dalam tekanan, persediaan kopi arabika di gudang ICE masih menjadi faktor yang dapat membatasi penurunan lebih lanjut.
Stok arabika ICE tercatat sekitar 217.646 kantong, yang di sebut berada pada level tertinggi dalam 27 tahun. Kondisi persediaan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pergerakan harga dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini mencermati seberapa cepat persediaan kopi yang tersertifikasi ICE kembali terisi. Kecepatan masuknya pasokan ke gudang menjadi salah satu sinyal penting untuk membaca arah harga intraday dan jangka pendek.
Jika pengiriman ke gudang berjalan lambat atau kondisi cuaca di Brasil kembali memburuk, tekanan penurunan harga dapat berkurang. Sebaliknya, pasokan yang terus mengalir dan kondisi panen yang mendukung berpotensi mempertahankan tekanan terhadap harga kopi global.(*)




















