SHANGHAI, Signalberita.com — Shanghai di kenal dengan daerah memiliki banyak tempat minum kopi. Dari Laporan Pengembangan Kopi Kota Bandar China, konsumsi kopi per kapita di Shanghai mencapai sekitar 106 cangkir per tahun. Angka itu hampir empat kali lipat di bandingkan rata-rata konsumsi nasional China yang berada di kisaran 29 cangkir per tahun.
Pertumbuhan tersebut membuat Shanghai tidak hanya menjadi pasar kopi, tetapi juga berkembang sebagai pusat industri yang menghubungkan perdagangan, distribusi, pengolahan hingga konsumsi kopi.
Empat tahun lalu, Shanghai telah mendapat perhatian sebagai salah satu kota kopi terbesar di dunia. Saat itu, berdasarkan data Meituan, kota tersebut memiliki 7.857 kedai kopi dan jumlahnya disebut telah melampaui sejumlah kota besar dunia seperti New York, London, dan Tokyo.
Jumlah itu kemudian terus bertambah hingga melewati 10.000 kedai. Ekosistem kopi Shanghai pun berkembang dengan munculnya beragam merek lokal, jaringan internasional, kedai independen hingga kafe premium.
Kopi Tak Lagi Sekadar Minuman
Pertumbuhan industri kopi Shanghai juga di topang perubahan perilaku konsumen. Laporan tersebut mencatat sekitar 75 persen pengguna layanan makanan secara rutin mengunjungi kedai kopi untuk membeli kopi.
Namun, alasan konsumen datang ke kedai kopi tidak selalu berkaitan dengan minuman. Sekitar 62 persen menggunakannya sebagai tempat bertemu teman dan bersosialisasi.
Fenomena tersebut mendorong munculnya konsep social check-in. Sejumlah kedai menawarkan produk edisi terbatas, merchandise, serta kolaborasi antara kopi dengan merek atau karakter populer untuk menarik perhatian konsumen.
Meski strategi pemasaran tersebut semakin berkembang, loyalitas pelanggan tetap dipengaruhi kualitas produk, harga, serta pengalaman yang ditawarkan di dalam kedai.
Persaingan Harga Mulai Bergeser
Industri kopi Shanghai sebelumnya sempat memasuki fase perang harga. Pada 2023 hingga 2024, sejumlah jaringan besar seperti Luckin Coffee dan Cotti Coffee mengandalkan diskon agresif. Harga sejumlah minuman umum saat itu berada di sekitar 9,9 renminbi.
Memasuki 2025, intensitas strategi tersebut mulai berkurang. Sejumlah pemain berbiaya rendah mengurangi frekuensi dan besaran diskon, meski beberapa merek tetap menawarkan kopi dengan harga sangat murah.
Di sisi lain, jaringan premium seperti Starbucks, Peet’s, dan M Stand mempertahankan struktur harga mereka. Pasar juga mulai melihat pertumbuhan kafe independen yang menawarkan minuman premium dengan biji kopi asal tertentu dan metode seduh khusus.
Luckin Coffee masih menjadi salah satu pemain terbesar di Shanghai dengan lebih dari 1.600 gerai. Starbucks memiliki lebih dari 1.100 gerai, sedangkan Manner mengoperasikan sekitar 900 gerai.
Rasa Lokal Masuk ke Dalam Kopi
Budaya kopi Shanghai juga berkembang dengan memadukan tren global dan selera lokal. Sejumlah bahan tradisional China mulai di gunakan dalam racikan kopi, antara lain osmanthus, plum yang diawetkan, susu beras, hingga bahan herbal.
Batas antara budaya minum teh dan kopi pun semakin tipis. Perusahaan yang sebelumnya di kenal sebagai pemain teh mulai menawarkan kopi, sementara jaringan kopi memasukkan minuman berbasis teh ke dalam menu mereka.
Kebiasaan mengonsumsi kopi pada pagi hari dan teh pada malam hari bahkan menjadi bagian dari pola konsumsi sebagian masyarakat perkotaan.
Kopi Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Perkembangan kopi di Shanghai tidak berhenti pada kedai. Kopi semakin terhubung dengan kegiatan budaya, hiburan, perdagangan, dan gaya hidup.
Festival seperti Shanghai International Coffee Culture Festival menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku industri dan konsumen. Sejumlah merek fesyen dan gaya hidup internasional seperti Tiffany, Ralph Lauren, dan Brompton juga membuka ruang khusus atau kafe di dalam gerai mereka.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa kopi telah berkembang menjadi bagian dari pengalaman konsumen dan sarana membangun hubungan dengan pelanggan.
Shanghai dan Rantai Industri Kopi
Kekuatan Shanghai tidak hanya terlihat dari jumlah kedai. Kota ini juga memiliki peran penting dalam rantai pasok kopi China.
Pelabuhan Shanghai menyumbang sekitar 28 persen dari nilai impor biji kopi hijau China. Sementara Shanghai Hongqiao International Coffee Harbour berkembang sebagai salah satu pusat impor dan distribusi kopi yang penting.
Di sekitar Shanghai juga terbentuk ekosistem industri yang mencakup pedagang biji kopi, broker, perusahaan logistik, produsen mesin, hingga perusahaan pemanggangan kopi.
Salah satu pusat pengolahan berada di Kunshan, Provinsi Jiangsu, sekitar 25 mil di sebelah barat Shanghai. Kawasan tersebut memiliki kapasitas produksi lebih dari 180.000 ton kopi per tahun atau setara dengan lebih dari 3 juta kantong.
Asia-Pacific Green Coffee Bean Distribution Centre, yang selesai pada 2023, turut memperkuat infrastruktur penyimpanan biji kopi hijau melalui fasilitas dengan pengendalian suhu dan kelembapan.
Lebih dari 40 perusahaan kopi internasional juga telah membuka operasi di Kunshan, termasuk Starbucks dan Luckin Coffee. Aktivitas kawasan tersebut mencakup perdagangan biji kopi, pemanggangan hingga pengemasan.
Dengan demikian, Shanghai berkembang bukan hanya sebagai kota dengan jumlah kedai kopi yang besar, tetapi juga sebagai salah satu simpul penting dalam rantai industri kopi China.(*)




















