TANJABTIM, Signalberita.com – Dusun Suka Jaya, Bertahun-tahun menanti Jaringan Listrik masuk, karena listrik yang ada hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari permukiman. Akibatnya warga hingga kini masih mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan penerangan.
Warga berharap pemerintah daerah bersama PLN dapat segera menindaklanjuti kebutuhan elektrifikasi di wilayah mereka.
Kepala Dusun Suka Jaya, Samsiah, S.Pd., mengatakan masyarakat telah berulang kali mengusulkan pembangunan jaringan listrik menuju permukiman.
Menurutnya, pengajuan pertama dilakukan pada 2020. Karena belum terealisasi, usulan kembali disampaikan pada 2025 dan diblanjutkan pada Februari 2026.
“Pada Februari 2026 kami kembali menyampaikan usulan. Pihak PLN juga sudah pernah turun melakukan survei ke lokasi,” ujar Samsiah.
Survei PLN Belum Berlanjut ke Pembangunan
Kedatangan petugas PLN untuk melakukan survei sempat menumbuhkan harapan warga. Mereka berharap survei tersebut menjadi langkah awal pembangunan jaringan listrik.
Namun, hingga kini belum ada pembangunan jaringan yang masuk ke kawasan permukiman tersebut.
Akibatnya, masyarakat masih harus menyediakan sumber listrik secara mandiri. Genset menjadi pilihan utama, meskipun penggunaannya sangat bergantung pada kemampuan warga membeli bahan bakar.
Genset Hanya Menyala Tiga Jam
Warga biasanya menghidupkan genset mulai sekitar pukul 18.00 WIB dan mematikannya sekitar pukul 21.00 WIB.
Pembatasan waktu penggunaan dilakukan untuk menghemat bahan bakar. Selain harganya yang menjadi beban, warga juga mengaku terkadang kesulitan mendapatkan bahan bakar.
“Biasanya mulai jam 6 sore dan mati sekitar jam 9 malam. Bahan bakarnya sekarang sulit didapat, selain mahal juga langka,” kata warga, Samsul.
Keterbatasan tersebut membuat aktivitas warga pada malam hari harus menyesuaikan dengan waktu operasional genset.
Anak-anak Belajar dengan Senter dan Lilin
Persoalan listrik juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan anak-anak di Dusun Suka Jaya.
Ketika genset tidak dapat dioperasikan atau bahan bakar tidak tersedia, sebagian anak harus belajar menggunakan senter. Bahkan, masih ada warga yang menggunakan lilin sebagai sumber penerangan.
Padahal, kebutuhan listrik untuk pendidikan semakin besar. Selain penerangan, anak-anak membutuhkan listrik untuk mengisi daya telepon seluler, mengakses informasi, mengerjakan tugas dan berkomunikasi terkait kegiatan sekolah.
Kondisi tersebut membuat akses listrik menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Kebutuhan Listrik Terus Meningkat
Warga lainnya, Sirajuddin, mengatakan kebutuhan listrik semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat telepon seluler dan perangkat elektronik menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
“Di era digital seperti sekarang, anak sekolah membutuhkan ponsel dan energi listrik. Tetapi untuk mendapatkan penerangan saja kami masih kesulitan,” ujarnya.
Keterbatasan listrik juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Pelaku usaha kecil, misalnya, membutuhkan energi untuk menjalankan berbagai peralatan pendukung usaha.
Warga Berharap Ada Kepastian Pembangunan
Jarak permukiman yang disebut sekitar 2,5 kilometer dari jaringan listrik menjadi perhatian masyarakat. Warga berharap hasil survei PLN dapat ditindaklanjuti dengan perencanaan pembangunan yang jelas.
Mereka memahami bahwa pembangunan jaringan listrik membutuhkan proses teknis, perencanaan dan anggaran. Namun, masyarakat berharap kondisi faktual di lapangan turut menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan.
Samsiah berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat dan PLN dapat kembali melihat langsung kondisi masyarakat di Dusun Suka Jaya.
“Harapan besar kami, mudah-mudahan pihak PLN dan pemerintah bisa masuk ke sini dan melihat masih ada warga yang belum mendapatkan penerangan,” katanya.
Warga Menanti Realisasi
Warga berharap usulan yang telah disampaikan sejak 2020 tidak berhenti pada tahap pengajuan dan survei.
Masyarakat menginginkan adanya kepastian mengenai tindak lanjut pembangunan jaringan listrik menuju permukiman mereka.
Jika jaringan listrik dapat terealisasi, warga berharap kebutuhan penerangan rumah, pendidikan anak, komunikasi hingga aktivitas ekonomi dapat dilakukan dengan lebih baik.
Bagi masyarakat Dusun Suka Jaya, kehadiran listrik bukan hanya soal penerangan pada malam hari. Akses energi yang stabil juga menjadi bagian penting dalam mendukung pendidikan, konektivitas digital dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kini, warga masih menunggu tindak lanjut pemerintah dan PLN atas kebutuhan listrik yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.(Tim)




















