JAKARTA SB– Arkeolog menemukan sebuah bangunan masjid kuno yang din perkirakan berusia lebih dari 1.300 tahun di situs Al-Ma’mala, wilayah Al-Baha, Arab Saudi.
Bangunan tersebut di perkirakan berasal dari abad pertama Hijriah atau sekitar abad ketujuh hingga awal abad kedelapan Masehi. Penemuan ini di umumkan setelah berlangsungnya musim penggalian keempat di situs arkeologi Al-Ma’mala, yang berada di dekat Al-Aqiq.
Mengutip MUI Di gital dari Arkeonews, Jumat (18/9/2026), Komisi Warisan Arab Saudi menyebut temuan tersebut dapat memberikan informasi mengenai kehidupan masyarakat serta perkembangan arsitektur Islam pada masa awal di Semenanjung Arab.
Masjid kuno itu di bangun menggunakan blok-blok granit yang di pahat. Bangunannya memiliki panjang sekitar 16 meter dari utara ke selatan dan lebar 10 meter dari timur ke barat.
Para arkeolog juga menemukan jejak plester gipsum pada bagian interior bangunan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah bagian dalam masjid pernah di lapisi permukaan yang di poles.
Di dalam bangunan terdapat mihrab yang menunjukkan arah kiblat serta tiga pintu masuk yang berada di sisi timur, barat, dan selatan. Di bagian tenggara kompleks di temukan struktur berbentuk persegi yang di tafsirkan sebagai bagian dari menara.
Di sekitar masjid juga di temukan delapan ruangan yang saling berdekatan. Sejumlah struktur berupa fasilitas penyimpanan, tempat air, dan bangunan pendukung menunjukkan bahwa masjid tersebut kemungkinan merupakan bagian dari permukiman yang lebih luas.
Di temukan Prasasti Arab
Salah satu temuan penting dari penggalian tersebut adalah sejumlah prasasti berbahasa Arab yang di temukan pada batu di bagian dalam dan dinding luar masjid.
Prasasti itu memuat doa-doa keagamaan serta teks yang berkaitan dengan Alquran. Salah satu prasasti pada dinding kiblat berisi doa yang memohon keberkahan bagi Muhammad ibn Abdullah.
Keberadaan prasasti, mihrab, dan sejumlah unsur arsitektur tersebut menjadi bagian dari bukti arkeologis dalam mengidentifikasi bangunan itu sebagai masjid.
Temuan tersebut juga memberikan gambaran mengenai kehidupan keagamaan masyarakat yang tinggal di kawasan Al-Ma’mala pada periode awal perkembangan Islam.
Berkaitan dengan Aktivitas Pertambangan
Al-Ma’mala tidak hanya menjadi kawasan permukiman dan keagamaan. Hasil penelitian arkeologi menunjukkan wilayah tersebut juga berkaitan erat dengan aktivitas pertambangan dan pengolahan sumber daya mineral, termasuk emas, perak, dan tembaga.
Penggalian sebelumnya menemukan berbagai instalasi serta peralatan yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan. Selain itu, di temukan pula bangunan tempat tinggal dan fasilitas produksi kerajinan.
Analisis sejumlah sampel menunjukkan aktivitas pertambangan di kawasan tersebut telah berlangsung sebelum periode Islam. Kegiatan itu kemudian mengalami peningkatan intensitas antara akhir abad keenam hingga abad kesembilan Masehi.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Al-Ma’mala menjadi kawasan yang mengalami perubahan dari masa sebelum Islam menuju periode berkembangnya masyarakat Islam awal.
Aktivitas pertambangan di perkirakan menarik berbagai kelompok masyarakat, mulai dari penambang, pengrajin logam, pedagang hingga pekerja lainnya.
Temuan berupa tembikar, pecahan bejana batu sabun, alu, batu penggiling, dan berbagai benda domestik menunjukkan adanya kehidupan masyarakat yang cukup kompleks.
Dalam konteks tersebut, keberadaan masjid menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan berkembang berdampingan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Berada Dekat Jalur Perdagangan Kuno
Secara geografis, situs Al-Ma’mala berada sekitar 13 kilometer sebelah timur Al-Aqiq dan sekitar 45 kilometer dari Al-Baha.
Lokasi tersebut juga berada di dekat jalur kuno yang di kenal sebagai Darb Al-Feel atau Jalan Gajah. Jalur tersebut menghubungkan wilayah Arab bagian selatan dengan kawasan di sebelah utara dan kemudian menjadi bagian dari jaringan perjalanan pada periode Islam.
Posisi geografis itu turut memberikan konteks terhadap perkembangan Al-Ma’mala sebagai kawasan permukiman, produksi, perdagangan, sekaligus tempat ibadah.
Komisi Warisan Arab Saudi menyatakan penelitian arkeologi di Al-Ma’mala masih akan di lanjutkan sebagai bagian dari upaya dokumentasi dan perlindungan peninggalan arkeologi.
Penggalian selanjutnya di harapkan dapat memberikan informasi lebih lengkap mengenai waktu pembangunan masjid, lamanya bangunan di gunakan, serta perubahan fungsi dan perannya seiring perkembangan aktivitas ekonomi dan pertambangan di kawasan tersebut.(*)


















