JAKARTA, Signalberita.com — Pelemahan nilai tukar rupiah di nilai dapat membatasi ruang Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan. Kondisi tersebut berpotensi membuat tingkat suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan perlu menjadi perhatian bagi sektor perbankan maupun dunia usaha.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan tekanan terhadap rupiah dapat meningkatkan biaya sejumlah komoditas, termasuk bahan baku, pangan, dan energi. Kenaikan biaya tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Ruang BI untuk Pangkas Suku Bunga Bisa Terbatas
Yusuf menjelaskan, meskipun inflasi masih berada dalam sasaran, pelemahan nilai tukar tetap perlu di perhatikan karena dapat meningkatkan risiko kenaikan harga barang yang memiliki keterkaitan dengan impor.
“Tekanan rupiah memperbesar kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Inflasi memang masih dalam sasaran, tetapi pelemahan kurs meningkatkan risiko kenaikan biaya bahan baku, pangan, dan energi,” kata Yusuf kepada Bisnis, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, persoalan yang perlu di cermati bukan hanya kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Risiko lainnya adalah tertundanya periode pelonggaran kebijakan moneter apabila tekanan terhadap rupiah terus berlangsung.
Perbankan Hadapi Potensi Kenaikan Biaya Dana
Bagi industri perbankan, Yusuf menilai lamanya periode suku bunga tinggi menjadi salah satu faktor penting. Semakin lama tingkat bunga berada pada level tinggi, semakin besar potensi kenaikan biaya dana yang harus di tanggung bank.
Persaingan dalam menghimpun dana pihak ketiga, terutama deposito, dapat meningkat. Pada saat yang sama, permintaan kredit untuk konsumsi maupun modal kerja berpotensi mengalami perlambatan.
Situasi tersebut dapat membuat bank lebih berhati-hati dalam menentukan debitur dan menyalurkan pembiayaan.
UMKM dan Debitur dengan Utang Valas Perlu Dicermati
Tekanan terhadap kualitas aset perbankan juga menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Kendati tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih terkendali, tekanan dapat berbeda pada setiap kelompok debitur.
Yusuf menyebut pelaku UMKM, perusahaan yang banyak menggunakan bahan baku impor, serta korporasi yang memiliki utang dalam valuta asing tanpa lindung nilai sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian.
“Tekanan mulai terlihat pada debitur UMKM, perusahaan yang bergantung pada impor, dan korporasi dengan utang valas tanpa lindung nilai,” ujarnya.
Dunia Usaha Berpotensi Menunda Ekspansi
Kombinasi rupiah yang melemah dan suku bunga yang tinggi juga dapat memengaruhi keputusan investasi perusahaan.
Perbankan berpotensi menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Sementara itu, perusahaan dapat menunda ekspansi yang tidak mendesak karena harus memperhitungkan biaya pembiayaan serta risiko perubahan nilai tukar.
“Bank akan lebih selektif menyalurkan kredit dan pelaku usaha cenderung menunda ekspansi yang belum mendesak,” kata Yusuf.
Dampaknya Berbeda pada Setiap Sektor Usaha
Yusuf menambahkan, dampak pelemahan rupiah tidak akan sama bagi seluruh perusahaan. Pelaku usaha yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS memiliki sumber penerimaan valuta asing yang dapat menjadi penyangga terhadap pelemahan rupiah.
Sebaliknya, perusahaan yang mayoritas menjual produknya di pasar domestik tetapi masih bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni perubahan nilai tukar dan tingginya biaya pembiayaan.
“Perusahaan dengan pendapatan dolar relatif lebih tahan, sedangkan bisnis yang menjual di pasar domestik tetapi memakai bahan baku impor menghadapi tekanan ganda dari kurs dan bunga,” pungkas Yusuf.(*)



















