Jakarta, Signalberita.com — Harga emas dunia mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (28/9/2026). Harga logam mulia tersebut merosot sekitar 4% dalam sehari dan kembali berada di kisaran US$4.100 per troy ons.
Mengacu pada data Refinitiv, emas ditutup di level US$4.114,27 per troy ons. Penurunan sebesar 4,01% menjadi yang terdalam sejak 3 Maret 2026 sekaligus membawa harga emas ke posisi terendah sejak awal Agustus.
Tekanan terhadap emas datang dari sejumlah faktor. Kenaikan harga minyak memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi, sementara dolar AS yang menguat dan meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat membuat aset emas menjadi relatif kurang menarik bagi investor.
Analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan lonjakan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi dan mendorong bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Penguatan dolar AS juga menjadi beban tambahan bagi emas. Karena emas diperdagangkan menggunakan dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury meningkatkan biaya peluang memegang emas. Berbeda dengan obligasi, emas tidak menghasilkan bunga sehingga investor dapat mempertimbangkan untuk mengalihkan dana ke aset yang menawarkan imbal hasil.
Harga Minyak Naik, Kekhawatiran Inflasi Kembali
Kenaikan harga energi menjadi salah satu perhatian utama pasar. Harga minyak Brent tercatat naik sekitar 1% pada Senin dan mencapai US$105 per barel.
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara global. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve atau The Fed, lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan suku bunga.
Situasi ini menjadi tantangan bagi emas. Meskipun emas selama ini kerap digunakan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, tingkat suku bunga yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan lain yang memberikan imbal hasil.
Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 94%.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada awal September. Sejumlah pejabat bank sentral AS juga masih menyoroti risiko inflasi dan membuka kemungkinan adanya pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian Berikutnya
Setelah aksi jual besar-besaran pada emas, perhatian pelaku pasar kini beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Beberapa data yang menjadi sorotan antara lain jumlah lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE, serta data nonfarm payrolls.
Data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan investor dalam menilai kondisi ekonomi dan inflasi AS. Hasilnya juga dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan harga emas selanjutnya.
Pada Selasa (29/9/2026) pagi, emas mulai menunjukkan pemulihan terbatas. Hingga sekitar pukul 06.30 WIB, harga emas tercatat naik 0,34% ke US$4.128,31 per troy ons setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya.(*)




















