MUAROJAMBI, Signalberita.com – Kemarau berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kekurangan pasokan air menyebabkan 378 hektare sawah mengalami puso atau gagal panen. Selain itu, produktivitas padi di lahan yang masih dapat dipanen juga mengalami penurunan.
Dampak tersebut terjadi pada musim tanam kedua, yakni periode Juni hingga September 2026. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi, dari total 3.552 hektare lahan yang ditanami padi pada periode tersebut, sekitar 378 hektare mengalami puso akibat kekeringan.
Tak hanya menyebabkan gagal panen, kemarau juga menurunkan hasil produksi padi. Jika sebelumnya produktivitas rata-rata mencapai 3,7 ton per hektare, tahun ini hasilnya turun menjadi sekitar 3,2 ton per hektare.
Penurunan tersebut mencapai 0,5 ton per hektare. Kondisi ini menambah beban petani yang harus menghadapi risiko kehilangan hasil panen akibat terbatasnya ketersediaan air.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi, Evi Syahrul, mengatakan kondisi cuaca pada musim tanam kedua sangat memengaruhi pertumbuhan tanaman padi.
Menurut Evi, tanaman padi membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh optimal dan menghasilkan produksi sesuai harapan. Namun, selama musim kemarau, ketersediaan air menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi petani.
“Memang pada masa tanam kedua ini, kondisi cuaca cukup memengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Ketersediaan air menjadi kendala bagi petani karena tanaman padi membutuhkan pasokan air yang cukup agar bisa tumbuh dengan baik dan menghasilkan produksi yang maksimal,” ujarnya.
378 Hektare Sawah Mengalami Puso
Data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi mencatat luas tanam padi hingga September mencapai 4.783 hektare.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.231 hektare telah dipanen pada periode Januari hingga Mei. Sementara itu, 3.552 hektare lainnya merupakan lahan yang ditanami pada periode Juni hingga September.
Namun, kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat sebagian lahan pada musim tanam kedua tidak mampu menghasilkan panen sesuai harapan. Sebanyak 378 hektare di antaranya dilaporkan mengalami puso.
“Dari luas tanam pada masa tanam kedua, terdapat sekitar 378 hektare lahan yang mengalami puso. Ini menjadi perhatian kami karena kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan berujung pada kerugian bagi petani,” kata Evi.
Selain lahan yang gagal panen, penurunan produktivitas pada lahan yang masih bisa dipanen juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Jika kekeringan terus berulang tanpa dukungan pasokan air yang memadai, hasil pertanian berpotensi semakin tertekan.
Pemerintah Salurkan Air ke Persawahan
Untuk mengurangi dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi bersama petani berupaya menyalurkan air ke area persawahan. Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan peralatan dan infrastruktur yang tersedia, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi tanaman yang masih dapat diselamatkan.
“Kami bersama petani sudah berupaya melakukan distribusi air ke persawahan dengan memanfaatkan peralatan dan infrastruktur yang ada. Upaya ini dilakukan agar kebutuhan air tanaman dapat terbantu dan dampak kekeringan terhadap pertanian bisa diminimalkan,” jelas Evi.
Meski demikian, distribusi air masih menjadi salah satu langkah penanganan di tengah keterbatasan sumber daya. Ketersediaan infrastruktur irigasi yang memadai dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pertanian terhadap curah hujan.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong pembangunan jaringan irigasi air tanah sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sektor pertanian ketika musim kemarau berlangsung.
Usulkan 17 Titik Irigasi Air Tanah
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi telah mengusulkan pembangunan 17 titik jaringan irigasi air tanah melalui program GRASS Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum.
Usulan tersebut diharapkan dapat menambah ketersediaan sumber air bagi lahan persawahan, khususnya ketika curah hujan menurun dan pasokan air untuk tanaman semakin terbatas.
“Kami sudah mengusulkan pembangunan 17 titik jaringan irigasi air tanah melalui program GRASS dari Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PU. Harapannya, usulan ini dapat direalisasikan sehingga petani memiliki sumber air yang lebih memadai, terutama ketika memasuki musim kemarau,” ungkapnya.
Menurut Evi, dukungan infrastruktur irigasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha tani di Muaro Jambi.
Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, risiko gagal panen diharapkan dapat ditekan dan produktivitas padi kembali meningkat.
“Kami berharap ke depan ketersediaan air untuk persawahan semakin baik. Dengan dukungan infrastruktur irigasi, petani bisa lebih terbantu dalam menghadapi musim kemarau, sehingga lahan pertanian tetap produktif dan penurunan hasil panen dapat kita antisipasi,” tandasnya.(Tim)




















