SENGETI, Signalberita.com – Kabupaten Muaro Jambi diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga Oktober 2026, setelah mengalami kemarau berkepanjangan. Meski curah hujan diprediksi berada pada kategori ringan hingga sedang, masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi banjir, khususnya di kawasan sepanjang aliran Sungai Batanghari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jambi memprakirakan awal musim hujan akan terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Muaro Jambi yang mencakup 11 kecamatan, baik di bagian barat maupun timur.
Peralihan musim tersebut berpotensi disertai hujan, angin kencang, dan petir. Kondisi ini perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah yang rentan terhadap genangan dan luapan sungai.
Puncak Musim Hujan Diperkirakan Desember 2026
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, mengatakan puncak musim hujan di Kabupaten Muaro Jambi diprediksi berlangsung pada Desember 2026 dengan curah hujan dalam kategori normal.
Namun, prakiraan curah hujan normal tidak berarti wilayah tersebut terbebas dari ancaman banjir. Risiko bencana tetap dipengaruhi kondisi geografis, kapasitas sungai, sistem drainase, serta intensitas hujan yang terjadi di wilayah hulu.
Kabupaten Muaro Jambi memiliki sejumlah kawasan yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari. Wilayah tersebut berpotensi terdampak apabila debit air meningkat dan sungai meluap.
Hujan dengan intensitas tinggi di daerah hulu juga dapat meningkatkan aliran air menuju wilayah hilir. Karena itu, masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan kenaikan permukaan sungai, terutama ketika hujan berlangsung dalam durasi panjang.
Pemerintah Daerah Perlu Memperkuat Mitigasi Banjir
Menghadapi peralihan musim, pemerintah daerah perlu memastikan langkah mitigasi bencana berjalan sebelum curah hujan meningkat.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemetaan kawasan rawan banjir dan longsor, pemeriksaan kesiapan sarana penanganan darurat, serta penguatan sistem penyampaian informasi peringatan dini kepada masyarakat.
Koordinasi antarlembaga juga diperlukan agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat apabila terjadi peningkatan risiko bencana.
Masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Batanghari dan kawasan rawan genangan diimbau memperhatikan perubahan kondisi cuaca serta kenaikan permukaan air. Warga juga perlu mengetahui jalur evakuasi dan mengikuti arahan petugas apabila situasi membahayakan.
Pemantauan informasi cuaca resmi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu masyarakat mengambil keputusan lebih awal ketika potensi hujan lebat atau banjir meningkat.
Petani Diminta Menyesuaikan Jadwal Tanam
Selain berkaitan dengan risiko bencana, perubahan musim juga perlu menjadi perhatian sektor pertanian di Muaro Jambi.
BMKG mengimbau petani menyesuaikan jenis tanaman dan jadwal tanam dengan prakiraan musim hujan periode 2026–2027. Langkah ini diperlukan untuk mengurangi potensi kerugian akibat perubahan ketersediaan air dan kondisi cuaca.
Pada masa peralihan musim, petani perlu mempertimbangkan waktu tanam serta kebutuhan air tanaman. Ketika curah hujan meningkat, pengelolaan lahan dan drainase juga menjadi penting untuk mengantisipasi kelebihan air.
Penyesuaian pola tanam yang mempertimbangkan informasi iklim dapat membantu petani menyusun strategi budidaya secara lebih terukur.
Warga Diminta Memantau Informasi Cuaca BMKG
Dengan awal musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada dasarian ketiga Oktober dan puncaknya pada Desember 2026, kesiapsiagaan pemerintah daerah, masyarakat, dan petani menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak cuaca.
Masyarakat di kawasan rawan banjir diimbau terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG. Warga juga diminta mengikuti arahan petugas apabila terjadi kenaikan debit sungai atau kondisi yang berpotensi membahayakan.
Antisipasi sejak dini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kerugian serta melindungi keselamatan warga saat musim hujan berlangsung.(Tim)




















