BATANGHARI, Signalberita.com – Kekeringan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Minimnya curah hujan membuat ribuan petani menghadapi ancaman penurunan produksi padi, bahkan sebagian lahan persawahan di laporkan telah mengalami gagal panen.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batang Hari mencatat sekitar 1.200 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 194 hektare sawah mengalami puso atau gagal panen.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan produksi pangan daerah. Kekurangan air tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman padi, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan pada lahan yang masih berpotensi menghasilkan panen.
Kepala Bidang pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batang Hari, Roma Uliana, menjelaskan bahwa sawah yang mengalami puso tersebar di tujuh kecamatan.
Menurutnya, keterbatasan pasokan air menjadi salah satu kendala utama yang harus segera ditangani agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.
1. Sebanyak 194 Hektare Sawah Mengalami Puso
Luas sawah yang gagal panen menunjukkan besarnya tekanan kekeringan terhadap pertanian di Batang Hari. Pada lahan yang mengalami puso, petani kehilangan kesempatan memperoleh hasil dari tanaman padi yang telah mereka tanam dan rawat.
Sementara itu, sekitar 1.200 hektare lahan pertanian tercatat terdampak. Artinya, selain sawah yang sudah gagal panen, masih terdapat lahan lain yang membutuhkan penanganan agar tanaman tidak mengalami kerusakan lebih parah.
Pemantauan kondisi persawahan menjadi penting untuk menentukan lahan yang masih dapat diselamatkan. Dengan data lapangan yang diperbarui secara berkala, penyaluran bantuan pengairan diharapkan bisa lebih tepat sasaran.
2. Minim Hujan Membuat Pasokan Air Terbatas
Rendahnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir memperburuk ketersediaan air untuk persawahan. Petani yang bergantung pada hujan maupun sumber air alternatif kini menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan tanaman.
Pasokan dari Sungai Batanghari dan sumur milik petani disebut belum mampu memenuhi kebutuhan pengairan secara optimal.
Akibatnya, sejumlah lahan mengalami kekeringan yang mengganggu pertumbuhan padi. Apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa tambahan air yang memadai, tanaman yang masih bertahan berisiko mengalami kerusakan lebih berat.
Hujan dengan intensitas terbatas juga belum tentu mampu memulihkan kondisi persawahan yang telah mengering. Tanaman padi membutuhkan pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan agar dapat berkembang dengan baik.
3. Sebanyak 183 Hektare Sawah Mengalami Kekeringan Berat
Selain lahan yang telah mengalami puso, sekitar 183 hektare sawah di Batang Hari dilaporkan masih menghadapi kekeringan berat.
Lahan tersebut menjadi perhatian karena tanaman yang masih bertahan membutuhkan penanganan segera. Jika kebutuhan air tidak terpenuhi, sebagian area berpotensi mengalami kerusakan lebih parah dan menambah luas sawah yang gagal panen.
Penanganan perlu mempertimbangkan kondisi tanaman, tingkat kekeringan, serta ketersediaan sumber air di sekitar persawahan. Penggunaan pompa air juga harus disesuaikan dengan kemampuan sumber air agar pengairan dapat berlangsung secara efektif.
Koordinasi antara petugas pertanian dan kelompok tani dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan di setiap lokasi, termasuk pengaturan distribusi air ketika sejumlah lahan membutuhkan pasokan secara bersamaan.
4. Tanaman Padi Berusia Muda Lebih Rentan
Usia tanaman menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dampak kekeringan terhadap produksi padi.
Roma Uliana menjelaskan bahwa tanaman padi berusia nol hingga satu bulan, yang masih berada dalam fase vegetatif, termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan akibat kekurangan air.
Pada tahap awal pertumbuhan, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup untuk menunjang perkembangan. Kekeringan berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan dan mengurangi peluang petani memperoleh hasil panen.
Sementara itu, tanaman yang telah memasuki fase generatif atau mulai menghasilkan bulir masih berpeluang dipanen. Meski demikian, kekurangan air tetap dapat memengaruhi hasil produksi.
Karena itu, penanganan kekeringan perlu memperhatikan usia dan kondisi tanaman. Pengairan dapat diprioritaskan pada lahan yang masih berpeluang menghasilkan panen agar bantuan yang tersedia memberikan manfaat optimal.
5. Dinas Pertanian Optimalkan Pompa Air
Untuk mengurangi dampak kekeringan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Batang Hari mengoptimalkan pemanfaatan pompa air milik kelompok tani.
Dinas juga meminjamkan pompa air yang tersedia kepada petani yang membutuhkan bantuan pengairan.
Langkah ini diharapkan membantu menyalurkan air ke lahan persawahan yang masih bisa diselamatkan. Namun, efektivitas penggunaan pompa tetap bergantung pada ketersediaan air di sumbernya.
Selain itu, pengaturan jadwal penggunaan pompa dan pembagian air antarkelompok tani diperlukan agar pemanfaatan peralatan lebih efektif.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga menunjukkan pentingnya penguatan infrastruktur pengairan pertanian. Sistem distribusi air yang memadai dapat membantu petani menghadapi periode minim hujan dan mengurangi risiko kerusakan tanaman.
6. Petani Berharap Hujan Segera Turun
Di tengah ancaman gagal panen, hujan dengan intensitas memadai diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air tanaman yang masih bertahan.
Meski demikian, dampak hujan akan bergantung pada tingkat kekeringan dan kondisi masing-masing lahan. Persawahan yang telah mengalami kerusakan berat belum tentu dapat pulih hanya dengan turunnya hujan.
Roma Uliana mengingatkan bahwa kekeringan yang berlanjut berpotensi memperluas area puso dan menekan produktivitas padi di Batang Hari.
Petani pun perlu terus memantau kondisi tanaman serta berkoordinasi dengan petugas pertanian setempat. Langkah ini penting untuk mempercepat penanganan apabila kondisi sawah semakin memburuk.
Pemerintah daerah juga perlu memperbarui data kondisi lahan dan ketersediaan air sebagai dasar menentukan langkah penanganan berikutnya.
7. Kekeringan Mengancam Pendapatan Petani dan Produksi Pangan
Dampak kekeringan tidak hanya berupa kerusakan tanaman, tetapi juga berpotensi mengurangi pendapatan petani akibat hilangnya hasil panen.
Penurunan produksi padi turut menjadi tantangan bagi upaya menjaga ketersediaan pangan daerah. Oleh sebab itu, penyelamatan lahan yang masih produktif menjadi salah satu prioritas dalam menghadapi kondisi tersebut.
Pemerintah daerah, petugas pertanian, dan kelompok tani perlu bekerja sama untuk memetakan tingkat kekeringan, memenuhi kebutuhan pengairan, serta menentukan lahan yang paling membutuhkan penanganan.
Dengan koordinasi dan pemanfaatan bantuan yang tepat, lahan yang masih berpotensi menghasilkan panen diharapkan dapat dipertahankan.
Di tengah kondisi cuaca yang belum mendukung, ketersediaan air dan kecepatan penanganan menjadi faktor penting untuk menekan risiko bertambahnya sawah gagal panen di Kabupaten Batang Hari.(*)




















