JAKARTA, Signalberita.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Pertalite yang relatif lebih murah menjadi salah satu alasan masyarakat memilihnya untuk kendaraan sehari-hari. Namun, penggunaan kedua jenis bensin tersebut disebut memiliki risiko terhadap kendaraan bermotor, terutama yang sudah memenuhi standar emisi Euro 4 dan menggunakan teknologi catalytic converter.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, menjelaskan bahwa salah satu kandungan dalam bensin yang perlu diperhatikan adalah belerang atau sulfur.
Menurut pria yang akrab disapa Puput tersebut, kandungan sulfur pada bensin Premium RON 88 dan Pertalite RON 90 berada di kisaran 150 hingga 200 ppm (parts per million).
Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah acara NGOVI. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut lebih tinggi dibandingkan batas kandungan sulfur yang dipersyaratkan untuk bahan bakar kendaraan berstandar Euro 4.
“Premium 88 dan Pertalite 90 punya kadar belerang di kisaran 150 sampai 200 ppm (part per milion),” kata Ahmad Safrudin.
Kandungan Sulfur Melebihi Batas Standar Euro 4
Puput menjelaskan, kendaraan yang memenuhi standar emisi Euro 4 membutuhkan bahan bakar dengan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.
Sementara itu, kandungan sulfur pada Premium dan Pertalite yang disebut mencapai 150 hingga 200 ppm berada sekitar tiga hingga empat kali lebih tinggi dari batas tersebut.
Perbedaan kandungan sulfur ini perlu menjadi perhatian karena kualitas bahan bakar turut memengaruhi kinerja sistem pengendalian emisi pada kendaraan modern.
Menurut Puput, penggunaan bensin dengan kandungan sulfur tinggi secara terus-menerus berpotensi menimbulkan kerusakan pada komponen tertentu, khususnya catalytic converter.
Catalytic Converter Berisiko Mengalami Kerusakan
Catalytic converter merupakan komponen pada sistem pembuangan kendaraan yang berfungsi membantu mengurangi kandungan zat berbahaya dari gas buang sebelum dilepaskan ke udara.
Komponen ini bekerja dengan mengubah sejumlah gas hasil pembakaran menjadi zat yang lebih rendah tingkat bahayanya.
Namun, kandungan sulfur yang tinggi dalam bahan bakar dapat mengganggu kinerja katalis dan menurunkan efektivitas sistem pengendalian emisi.
“Efeknya akan merusak kendaraan bermotor yang sudah dilengkapi catalytic converter,” tambah Puput.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan bahan bakar dengan kadar sulfur tinggi berpotensi merusak komponen tersebut.
Kerusakan Catalytic Converter Bisa Memengaruhi Kinerja Mesin
Masalah tidak berhenti pada kerusakan catalytic converter. Menurut Puput, gangguan pada komponen tersebut juga dapat memengaruhi sistem elektronik kendaraan, termasuk Engine Control Unit (ECU).
ECU merupakan perangkat elektronik yang mengatur berbagai fungsi mesin berdasarkan informasi dari sejumlah sensor kendaraan.
Ketika sistem pengendalian emisi mengalami gangguan, sensor dapat mengirimkan sinyal yang membuat ECU menyesuaikan pengoperasian mesin. Akibatnya, kendaraan berpotensi mengalami penurunan performa atau masuk ke mode perlindungan mesin.
“Jadi begitu catalytic converter rusak, otomatis akan memberikan sinyal ke kendaraan untuk tidak berjalan normal,” pungkasnya.
Karena itu, pemilik kendaraan modern perlu memperhatikan spesifikasi bahan bakar yang direkomendasikan pabrikan. Pemilihan BBM sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kesesuaian kualitas bahan bakar dengan kebutuhan mesin dan teknologi kendaraan.
Penggunaan bahan bakar sesuai spesifikasi dapat membantu menjaga performa mesin sekaligus mendukung usia pakai komponen sistem pembakaran dan pengendalian emisi.(*)



















