JAKARTA, Signalberita.com – Jarak tempuh menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan masyarakat sebelum membeli sepeda motor listrik. Konsumen perlu memastikan kapasitas baterai mampu menunjang aktivitas sehari-hari tanpa harus terlalu sering melakukan pengisian daya.
Berbeda dengan sepeda motor berbahan bakar bensin yang dapat mengisi bahan bakar di berbagai SPBU, penggunaan motor listrik sangat bergantung pada kapasitas baterai dan ketersediaan fasilitas pengisian daya.
Kondisi tersebut membuat sebagian calon pengguna masih khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan. Kekhawatiran ini dikenal dengan istilah range anxiety, yakni kecemasan terhadap keterbatasan jarak tempuh kendaraan listrik.
Lantas, apakah motor listrik dengan kemampuan menempuh jarak 100 kilometer dalam sekali pengisian baterai sudah cukup untuk kebutuhan harian?
Jarak Tempuh Harian Menjadi Penentu
Kebutuhan jarak tempuh setiap pengendara tentu berbeda. Bagi masyarakat yang menggunakan motor untuk bekerja, berbelanja, atau menjalankan aktivitas di dalam kota, jarak tempuh 100 kilometer bisa menjadi pilihan yang cukup memadai.
Pengalaman Rahman, pengguna motor listrik Alva N3 Next Gen, menunjukkan bahwa kendaraan listrik dapat menunjang mobilitas harian apabila jarak perjalanan dan kapasitas baterai sesuai.
Rahman mengungkapkan, perjalanan rutinnya dari Bintaro, Tangerang Selatan, menuju Pulomas, Jakarta Timur, mencapai sekitar 30–35 kilometer sekali jalan. Dengan perjalanan pulang-pergi, ia menempuh jarak sekitar 65–70 kilometer setiap hari.
Sementara itu, Alva N3 Next Gen memiliki klaim jarak tempuh hingga 140 kilometer. Menurut Rahman, kemampuan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan mobilitasnya di kawasan perkotaan.
Ia bahkan mengaku dapat menyelesaikan perjalanan dari Tangerang Selatan menuju Jakarta Timur dan kembali dengan sisa baterai sekitar 15 persen.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa jarak tempuh yang diklaim pabrikan dapat menjadi acuan awal bagi konsumen. Namun, hasil pemakaian sebenarnya tetap bergantung pada kondisi perjalanan dan pola berkendara.
Kecepatan dan Kenyamanan Juga Perlu Diperhatikan
Selain daya tahan baterai, kenyamanan berkendara menjadi faktor lain yang perlu diperhitungkan ketika memilih motor listrik.
Rahman menilai dimensi Alva N3 Next Gen yang ramping dan bobotnya yang relatif ringan memudahkan pengendara bermanuver di tengah lalu lintas perkotaan.
Dari sisi performa, motor tersebut memiliki klaim kecepatan maksimum 80 kilometer per jam. Berdasarkan pengalamannya, kecepatan aktual yang dapat dicapai bahkan bisa menyentuh 88 kilometer per jam.
Meski demikian, konsumen sebaiknya tidak hanya berpatokan pada angka jarak tempuh dan kecepatan maksimum. Kondisi jalan, beban kendaraan, gaya berkendara, serta penggunaan fitur kelistrikan dapat memengaruhi konsumsi daya baterai.
Karena itu, calon pembeli perlu menyesuaikan spesifikasi motor listrik dengan kebutuhan mobilitas masing-masing.
Motor Listrik Mulai Dilirik karena Biaya Operasional
Ketertarikan masyarakat terhadap motor listrik juga dipengaruhi pertimbangan biaya operasional. Kenaikan atau perubahan harga bahan bakar dapat mendorong sebagian pengguna mencari alternatif kendaraan yang lebih ekonomis.
Jajang, warga Bandung, Jawa Barat, mengaku mulai tertarik menggunakan motor listrik meskipun belum memilikinya.
Ia menilai motor listrik dapat menjadi alternatif kendaraan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Ketertarikan tersebut muncul seiring pertimbangannya terhadap biaya penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin.
Namun, keputusan beralih ke motor listrik tidak hanya berkaitan dengan biaya energi. Konsumen juga perlu memperhitungkan harga pembelian, biaya perawatan, umur baterai, serta kemudahan mendapatkan layanan servis.
Apakah Jarak Tempuh 100 Km Sudah Ideal?
Motor listrik dengan jarak tempuh 100 kilometer berpotensi mencukupi kebutuhan harian bagi pengendara yang menempuh perjalanan relatif pendek dan memiliki akses pengisian daya yang memadai.
Sebagai gambaran, jika seseorang menempuh perjalanan 30–40 kilometer setiap hari, kapasitas tersebut secara teori memberikan ruang yang cukup untuk perjalanan pulang-pergi. Namun, jarak tempuh aktual bisa lebih rendah daripada klaim pabrikan.
Sebaliknya, bagi pengendara yang menempuh perjalanan 70–100 kilometer sehari, motor dengan klaim jarak tempuh 100 kilometer mungkin terasa terbatas. Pengguna perlu mempertimbangkan cadangan daya untuk menghadapi kemacetan, perubahan rute, atau kebutuhan perjalanan tambahan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan dealer dan bengkel resmi. Jaringan layanan purnajual yang mudah dijangkau akan membantu pengguna melakukan perawatan dan menangani masalah teknis.
Dengan demikian, motor listrik berjarak tempuh 100 kilometer tidak otomatis cocok untuk semua orang. Konsumen sebaiknya menghitung kebutuhan perjalanan harian, memperhatikan cadangan baterai, serta memastikan kemudahan pengisian daya dan layanan servis sebelum menentukan pilihan.(*)




















