KERINCI, Signalberita.com – Kabupaten Kerinci, yang merupakan daerah paling barat di provinsi Jambi, tidak hanya di kenal dengan daerah pariwisata. Namun, juga terdapat jejak peradaban masa lampau berupa puluhan situs megalitikum yang tersebar di sejumlah wilayah.
Bukti peninggalan sejarah berupa batu silindrik, menhir, punden berundak, batu lumpang hingga batu sorban menjadi bukti bahwa kawasan Kerinci telah menjadi ruang kehidupan manusia sejak masa prasejarah.
Salah satu peninggalan yang menarik perhatian adalah batu silindrik. Batu ini berbentuk bulat memanjang dan dengan posisi rebah.
Sejumlah batu memiliki pahatan atau relief yang menggambarkan hewan, manusia serta bentuk-bentuk geometris.
Relief tersebut antara lain menampilkan figur seperti gajah, kerbau dan manusia, termasuk sosok manusia yang digambarkan mengenakan semacam mahkota.
Keberadaan batu-batu tersebut tidak sekadar menjadi benda bersejarah. Bagi para peneliti, peninggalan megalitik dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan, kepercayaan dan kebudayaan masyarakat yang pernah mendiami kawasan dataran tinggi Kerinci.
Selain batu silindrik, terdapat pula menhir dan punden berundak. Struktur batu tersebut diduga berkaitan dengan kegiatan penghormatan terhadap leluhur maupun ritual masyarakat pada masa lalu.
Sejumlah situs bahkan berada di kawasan perbukitan dan memiliki orientasi yang berkaitan dengan bentang alam di sekitarnya, termasuk Gunung Kerinci.
Salah satu kawasan yang dikenal memiliki peninggalan megalitik adalah Desa Muak, Kecamatan Bukit Kerman.
Di kawasan ini terdapat sejumlah batu megalitik, termasuk yang dikenal masyarakat sebagai Batu Patah serta batu-batu yang memiliki pahatan atau relief.
Situs lainnya tersebar di Jujun, Pulau Tengah dan Benik, yang juga memiliki temuan batu silindrik dengan nilai sejarah tinggi. Dan baru-baru ini di desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci di temukan batu menhir.
Sementara di Sungai Liuk, terdapat Batu Sorban, berupa batu besar berbentuk persegi panjang yang di kaitkan dengan aktivitas ritual atau tempat meletakkan sesaji pada masa lampau.
Di Hiang Tinggi, peninggalan berupa punden berundak dan menhir menjadi bagian dari jejak kebudayaan megalitik yang masih dapat di temukan hingga kini.
Keragaman peninggalan tersebut membuat Kerinci layak dipandang sebagai salah satu kawasan penting dalam kajian kebudayaan megalitik di Sumatra.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, Jamal Penta Putra, mengatakan keberadaan situs-situs megalitikum merupakan kekayaan sejarah dan budaya yang sangat penting bagi Kabupaten Kerinci.
“Kerinci memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Situs-situs megalitikum ini menjadi bukti bahwa sejak zaman dahulu kawasan Kerinci sudah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban manusia di Sumatra,” ujar Jamal.
Menurutnya, keberadaan batu silindrik, menhir, punden berundak dan berbagai peninggalan lainnya tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berpotensi di kembangkan sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya.
“Kita tentu ingin peninggalan ini tidak hanya menjadi benda yang dilihat, tetapi masyarakat dan generasi muda juga memahami nilai sejarah yang ada di baliknya. Karena itu, pelestarian harus berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata,” katanya.
Jamal menegaskan, Pemerintah Kabupaten Kerinci melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan terus mendorong upaya pelestarian situs-situs bersejarah tersebut melalui pendataan, perawatan, promosi serta edukasi kepada masyarakat.
“Ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama. Kerinci memiliki identitas sejarah yang kuat dan kekayaan megalitik ini harus menjadi kebanggaan sekaligus warisan untuk generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Di tengah perkembangan zaman, batu-batu tua yang tersebar di lembah dan perbukitan Kerinci seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang manusia di dataran tinggi Sumatra.




















