SUNGAIPENUH, Signalberita.com – Kabar mengajukan bagi Lembaga Legislatif di kota Sungai Penuh, Fahruddin ketua Komisi II DPRD Sungai Penuh mengundurkan diri dari jabatannya.
Pengunduran dirinya tersebut di sampaikan dalam rapat Paripurna yang di gelar pada Selasa (11/08/2026). Dia menyampaikan langsung dalam forum resmi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Dia mengatakan bahwa gagal meyakinkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menaikkan target PAD sebesar 3 persen pada tahun anggaran 2027.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab saya kepada rakyat. Saya tidak mampu meyakinkan TAPD dan OPD untuk meningkatkan PAD. Bahkan, mereka menyatakan tidak sanggup,” ungkapnya dalam pernyataan yang disampaikan di hadapan peserta rapat.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti lemahnya ketegasan dalam kepemimpinan daerah. Menurutnya, komitmen yang disampaikan dalam pidato terkait enam prioritas pembangunan dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. Ia bahkan menyebut adanya penurunan target PAD untuk tahun 2027 sebagai langkah yang tidak tepat.
“Pidato tegas tentang prioritas untuk rakyat, namun tidak sesuai fakta. Justru PAD diturunkan. Ini bertolak belakang dengan kondisi riil di lapangan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi PAD yang dinilai belum tergarap maksimal, khususnya dari sektor parkir dan usaha yang menjamur di berbagai sudut Kota Sungai Penuh. Namun, realisasi pendapatan dinilai masih minim dan pengelolaannya belum optimal.
“Di setiap penjuru kota sudah menjadi lahan parkir dan usaha, tapi pemasukan ke kas daerah sangat kecil. Bukan semakin baik, justru semakin kacau dan amburadul pengelolaannya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku telah meminta Wali Kota Sungai Penuh untuk bersikap tegas terhadap OPD pengelola PAD yang dinilai tidak transparan. Ia bahkan mendorong adanya sanksi tegas hingga pemberhentian jabatan bagi pejabat yang tidak menunjukkan kinerja maksimal.
“Saya sudah sampaikan agar wali kota segera bertindak tegas terhadap OPD yang tidak transparan. Berikan teguran keras bahkan pemberhentian jika tidak mau bekerja,” ujarnya.
Namun, dalam proses penyampaian kritik tersebut, ia mengaku mendapat tekanan dari sesama anggota DPRD. Ia menilai ada sikap tidak konsisten dari sebagian pihak yang justru menghambat upaya perbaikan.
“Saya dihadang oleh sesama anggota. Ada yang dua muka, menusuk dari dalam dan luar. Kalau berani, mari berhadapan secara terbuka dengan argumen dan wawasan,” pungkasnya.(Tim)



















