Negara-Negara Eropa Siapkan Larangan Media Sosial untuk Anak

SIGNALBERITA.COM — Sejumlah negara Eropa mulai menyiapkan pembatasan hingga pelarangan akses media sosial bagi anak dan remaja. Langkah ini menyusul kebijakan Australia yang lebih dulu membatasi penggunaan media sosial untuk remaja di bawah 16 tahun.

Parlemen Prancis telah menyetujui rancangan undang-undang yang melarang anak di bawah 15 tahun mengakses media sosial. Pemerintah kini mengajukan beleid tersebut ke majelis tinggi untuk disahkan.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan komitmennya melindungi anak-anak dari ruang digital yang ia sebut liar dan sarat risiko. Pemerintah Spanyol menyiapkan larangan akses bagi anak di bawah 16 tahun.

Sejumlah negara lain mengikuti langkah serupa. Denmark menyepakati pembatasan akses media sosial melalui kesepakatan lintas partai, meski belum memberlakukan undang-undangnya. Italia mengajukan rancangan aturan yang membatasi penggunaan media sosial, termasuk bagi influencer di bawah 15 tahun.

Yunani menyatakan hampir merampungkan kebijakan serupa. Portugal mengajukan regulasi yang mewajibkan persetujuan orang tua bagi anak di bawah 16 tahun untuk mengakses media sosial. Austria mempertimbangkan larangan, sementara Inggris membuka konsultasi publik terkait pembatasan tersebut.

Pada November 2025, anggota Parlemen Eropa merekomendasikan pelarangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun di seluruh Uni Eropa. Mereka mengusulkan akses terbatas bagi anak usia 13 hingga 16 tahun dengan persetujuan orang tua.

Kekhawatiran Dampak terhadap Perkembangan Otak

Para ahli menilai penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi perkembangan otak anak. Paul O. Richter dari lembaga think tank Bruegel menyebut anak di bawah umur menghadapi risiko dampak jangka panjang karena kemampuan kognitif mereka masih berkembang.

Komisi Eropa turut mempertimbangkan penggunaan identitas digital Uni Eropa untuk memverifikasi usia pengguna. Sistem ini dirancang agar pengguna dapat membuktikan usia tanpa mengungkap data pribadi secara lengkap.

Namun sejumlah kelompok advokasi digital meragukan efektivitas langkah tersebut. Mereka menilai pembatasan usia tidak menyentuh persoalan mendasar, seperti fitur autoplay dan sistem gulir tanpa batas yang mendorong kecanduan serta memicu kecemasan pada remaja.

Perdebatan mengenai efektivitas dan penerapan teknis kebijakan ini masih berlangsung. Meski demikian, gelombang pembatasan media sosial bagi anak kini menguat di Eropa sebagai respons atas kekhawatiran dampak kesehatan mental generasi muda.***

Redaksi SB

Recent Posts

Persaingan Makin Panas, Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…

1 jam ago

Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026, Suguhkan Motor Retro

JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…

2 jam ago

Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu yang Berdasarkan Bulan Kelahiran

Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…

4 jam ago

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…

6 hari ago

Jangan Lewatkan Leg Day, Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kebugaran

JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…

6 hari ago

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…

6 hari ago