JAKARTA SB – Sejumlah penumpang asal Indonesia yang melakukan perjalanan dari luar negeri tertahan di Singapura setelah operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026).
Penutupan Bandara Soetta dilakukan akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mencapai wilayah Jabodetabek dan Lampung.
Sejumlah jurnalis, termasuk rombongan CNN Indonesia, turut terdampak penutupan tersebut. Rombongan sebelumnya melakukan perjalanan dari Vladivostok, Rusia, menuju Beijing, China, pada Jumat (4/9) waktu setempat.
Setelah transit sekitar 12 jam di Beijing, rombongan melanjutkan penerbangan menuju Singapura pada Sabtu (5/9) pagi dan tiba di Bandara Changi sekitar pukul 14.00 waktu setempat.
Rombongan seharusnya melanjutkan penerbangan dari Singapura menuju Bandara Soetta pada Sabtu sore pukul 18.30 waktu setempat. Para penumpang bahkan telah berada di gate sejak pukul 17.30.
Namun, penerbangan kemudian diumumkan dibatalkan akibat kondisi operasional Bandara Soetta. Para penumpang selanjutnya mendapatkan kompensasi berupa akomodasi untuk satu malam.
Penerbangan lanjutan ke Bandara Soetta dijadwalkan pada Minggu pukul 13.55 WIB. Kendati demikian, jadwal tersebut masih tentatif dan menunggu kepastian mengenai kondisi operasional bandara.
Sebelumnya, otoritas Bandara Soetta mengumumkan penutupan operasional hingga pukul 09.30 WIB. Selain Soetta, sejumlah bandara lain juga terdampak, yakni Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Radin Inten II di Lampung, serta Bandara Budiarto Curug di Tangerang.
Penutupan sejumlah bandara tersebut berkaitan dengan paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih mengalami erupsi pada Minggu pagi.
Erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan menghasilkan kolom abu vulkanik yang mencapai ketinggian belasan kilometer serta disertai lontaran lava pijar. Status gunung api tersebut masih berada pada level Siaga.
Masyarakat juga dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak erupsi.(*)

















