Di kawasan Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, terdapat sebuah desa yang menyimpan cerita panjang: Pulau Pandan.
Pulau Pandan bukan sekadar nama di peta. Dalam sejarah pemerintahan daerah, desa ini pernah ditetapkan sebagai ibu kota Kecamatan Limun, menunjukkan pentingnya wilayah ini dalam perkembangan kawasan Limun.
Namun sejarah Pulau Pandan tidak hanya tersimpan dalam dokumen. Sebagian kisahnya hidup dalam ingatan masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun.
Salah satunya adalah cerita tentang Lubuk Guci, yang berada di Dusun Elang Menari, Desa Pulau Pandan.
Konon, pada zaman dahulu seorang nelayan melihat rantai emas di dalam sebuah lubuk. Ia kemudian menarik rantai tersebut karena dipercaya pada ujungnya terdapat sebuah guci emas.
Seekor elang disebut terus memperingatkannya dengan suara:
“Putuskan… putuskan…”
Namun peringatan itu tidak dihiraukannya. Semakin rantai ditarik, semakin banyak rantai emas yang masuk ke dalam perahu. Hingga akhirnya perahu tersebut tenggelam dan sang nelayan ikut terbawa ke dasar lubuk.
Cerita inilah yang kemudian dikaitkan masyarakat dengan nama Lubuk Guci.
Kisah tersebut memang belum dapat dibuktikan sebagai peristiwa sejarah secara arkeologis. Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai legenda atau cerita tutur masyarakat. Tetapi di balik cerita tersebut terdapat pesan yang kuat: jangan serakah dan jangan mengabaikan peringatan.
Sungai Limun sendiri menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Kesaksian warga Pulau Pandan yang dicatat Mongabay menyebut bahwa sekitar tahun 1980-an, sungai masih relatif jernih dan masyarakat mencari emas dengan cara tradisional menggunakan dulang. Mereka tetap berladang dan berkebun, sementara mendulang emas menjadi pekerjaan tambahan.
Seiring waktu, penggunaan mesin dan aktivitas pertambangan meningkat, membawa perubahan besar terhadap lingkungan sungai dan kawasan Limun.
Hari ini Pulau Pandan terus berkembang. Namun masih banyak pertanyaan sejarah yang belum terjawab:
Siapa masyarakat pertama yang membuka Pulau Pandan? Dari mana mereka datang? Bagaimana asal-usul namanya? Dan bagaimana hubungan Pulau Pandan dengan sejarah perantauan serta tembo masyarakat Minangkabau di Limun?
Mungkin jawabannya masih tersimpan dalam cerita para tetua, tembo, silsilah, dan nama-nama tempat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pulau Pandan mungkin kecil di peta, tetapi sejarahnya belum tentu kecil.
Sumber: publikasi sejarah lokal Lubuk Guci; Perda Kabupaten Sarolangun No. 6 Tahun 2007; Mongabay, laporan sejarah pertambangan emas Limun.


















