Categories: Ekonomi & Bisnis

Rupiah Menguat, Dolar AS Melemah Usai Sentimen Damai AS-Iran

JAKARTA, Signalberita.com – Pergerakan Nilai tukar rupiah terjadi penguatan tertinggi di kawasan Asia pada perdagangan awal pekan, Senin (15/6/2026). Rupiah bergerak positif setelah dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan di pasar global akibat munculnya kabar terkait perkembangan proses perdamaian antara AS dan Iran.

Berdasarkan data pasar valuta asing, sebanyak sembilan dari 10 mata uang Asia yang dipantau berhasil menguat terhadap dolar AS. Hanya satu mata uang yang tercatat melemah.

Rupiah menjadi mata uang dengan kenaikan paling besar di Asia. Mata uang Garuda menguat sekitar 0,92 persen ke level Rp17.700 per dolar AS.

Penguatan rupiah kemudian diikuti oleh baht Thailand yang naik 0,43 persen ke posisi THB 32,55 per dolar AS. Won Korea Selatan juga bergerak positif dengan kenaikan 0,37 persen menjadi KRW 1.512,6 per dolar AS.

Selain itu, dolar Taiwan menguat 0,27 persen ke TWD 31,524 per dolar AS. Dolar Singapura naik 0,18 persen ke SGD 1,2817 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,17 persen ke MYR 4,048 per dolar AS.

Yuan China turut mencatat kenaikan 0,07 persen ke CNY 6,758 per dolar AS. Peso Filipina menguat 0,10 persen ke PHP 60,596 per dolar AS, sementara yen Jepang naik tipis 0,01 persen ke JPY 160,2 per dolar AS.

Satu-satunya mata uang Asia yang melemah adalah dong Vietnam yang terkoreksi tipis 0,02 persen ke level VND26.255 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan 0,17 persen ke posisi 99,578. Pelemahan dolar ini membuka peluang bagi mata uang negara lain, termasuk kawasan Asia, untuk bergerak lebih kuat.

Tekanan terhadap dolar terjadi setelah muncul kabar bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan kerangka perdamaian yang mencakup penghentian konflik, penghentian blokade, serta pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Sentimen tersebut turut membuat harga minyak dunia turun. Harga minyak Brent tercatat melemah lebih dari 4 persen ke sekitar US$83,82 per barel.

Penurunan harga minyak memberikan sentimen positif bagi pasar karena dapat mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi energi. Kondisi ini juga menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral global.

Meski demikian, investor masih mencermati perkembangan geopolitik. Pemerintah AS tetap membuka kemungkinan adanya langkah lanjutan apabila kesepakatan dengan Iran tidak berjalan sesuai rencana.(*)

Redaksi SB

Recent Posts

Persaingan Makin Panas, Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…

1 jam ago

Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026, Suguhkan Motor Retro

JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…

2 jam ago

Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu yang Berdasarkan Bulan Kelahiran

Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…

3 jam ago

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…

6 hari ago

Jangan Lewatkan Leg Day, Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kebugaran

JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…

6 hari ago

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…

6 hari ago