BERITA TERPOPULER

Sejarah Budaya Etnis Nias di Kota Padang

SIGNALBERITA.COM – Kehadiran etnis Nias di Kota Padang memiliki sejarah panjang yang terkait dengan perdagangan dan kekuasaan kolonial di pantai barat Sumatera.

Kedatangan Etnis Nias pada Masa Kolonial

Eksistensi etnis Nias di Kota Padang di mulai sejak masa VOC Belanda dan EIC Inggris, yang menguasai perdagangan di Sumatra’s Westkust pada abad ke-17 dan 18. Kehadiran ini berlanjut hingga masa Hindia Belanda, Jepang, dan setelah kemerdekaan Indonesia.

Perjanjian antara VOC dan tokoh masyarakat Nias di Teluk Dalam pada 1693 menyepakati pengiriman komoditas dari Pulau Nias ke Padang. Ini mendorong migrasi etnis Nias ke Padang.

Pola Permukiman dan Mata Pencaharian

Orang Nias yang datang pertama kali memilih tinggal di pesisir pantai dan perbukitan Gunung Padang. Lokasi ini dekat dengan pekerjaan utama mereka sebagai tenaga kerja di pelabuhan Muara Batang Arau dan Pulau Pisang.

Selain bekerja di pelabuhan, perempuan Nias mahir menganyam atap daun rumbia. Laki-laki Nias di kenal sebagai pemanjat pohon kelapa, juga berkebun dan beternak. Purus menjadi permukiman awal etnis Nias di tepi pantai Padang.

Adaptasi Sistem Adat

Pada abad ke-19, sistem adat Nias menyesuaikan dengan sistem wijk (wilayah) di Kota Padang, dari wijk 1 hingga wijk 8. Sistem ini membagi wilayah adat etnis Nias menjadi delapan wilayah, dari Emmahaven (Teluk Bayur) hingga Lolong-Ulak Karang.

Setiap wilayah adat di pimpin oleh kafalo kafo (kepala kampung adat). Sistem ini berbeda dengan di Pulau Nias. Setiap wilayah terdiri dari kafala kafo, dibantu tua kafo (tua kampung) dan empat niniak mamak (tetua adat).

Penggunaan Bahasa

Etnis Nias di Padang menggunakan tiga bahasa: bahasa Nias, bahasa Indonesia, dan bahasa Minang. Bahasa Minang digunakan saat menyapa anggota keluarga, seperti mamak, udo, uwo, untuk saudara laki-laki dari ibu (sibaya).

Kesimpulan

Kehadiran etnis Nias di Kota Padang adalah hasil interaksi sejarah dan ekonomi. Adaptasi budaya dan bahasa menunjukkan kemampuan mereka berintegrasi dengan masyarakat setempat, sambil mempertahankan identitas budaya.***

Redaksi SB

Recent Posts

KUR 2026: Penyaluran Meningkat, Pertumbuhan Melambat, Alarm Risiko atau Peluang Baru bagi UMKM?

SIGNALBERITA.COM – Pada Awal tahun 2026 ini, Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menunjukkan tren positif,…

1 jam ago

438 CJH Kota Jambi Kloter Perdana akan Diterbangkan, Ini Jadwal Keberangkatannya

JAMBI, SIGNALBERITA.COM – Calon Jamaah Haji asal Kota Jambi, untuk kloter pertama sebanyak 438 orang…

2 jam ago

Penasaran Berapa Pajak Mobil Listrik Wuling Air EV & BYD Atto 1? Ini Rinciannya

JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Tingginya peminat kendaraan Listrik di Indonesia, membuat Pemerintah menerbitkan aturan baru terkait…

3 jam ago

Segera Klaim! Kode Redeem Free Fire 21 April 2026, Token Trogon Ruby Shot Diburu

JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Setiap hari Pemain Free Fire selalu mencari Kode Redeem dengan skin yang…

4 jam ago

Motorola Signature Resmi Hadir: HP Rp 11 Jutaan dengan Kamera 50 MP

JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Motorola kembali menghadirkan inovasi terbaru lewat seri Motorola Signature, smartphone premium yang…

5 jam ago

Puluhan Anak Di Muaro Jambi Putus Sekolah, Ini data Disdikbud

MUAROJAMBI, SIGNALBERITA.COM – Kasus anak yang putus sekolah di Muaro Jambi sepertinya harus menjadi perhatian…

6 jam ago