Categories: Sastra & Budaya

Tragedi Kanso 44 di Pariaman Sumatera Barat

Kota Pariaman merupakan salah satu kota kecil yang berada di Sumatera Barat. Kota Pariaman di huni oleh penduduk dengan mayoritas etnis minangkabau, etnis jawa, batak dan banyak etnis lainnya yang ada di Indonesia. Namun di antara banyaknya etnis yang bermukim di Pariaman, terdapat satu etnis yang mungkin tidak akan pernah menjajaki Kota Pariaman, yaitu etnis Tionghoa.

Hal ini tentu cukup mengherankan mengingat etnis Tionghoa di kenal sangat suka berbaur sehingga keberadaannya tersebar di seluruh dunia. Tidak adanya etnis Tionghoa di Pariaman bukanlah tanpa alasan, melainkan terdapat peristiwa sejarah dibaliknya.

Mulanya, Etnis Tionghoa sudah bermukim di Pariaman sejak zaman penjajahan Belanda. Mereka hidup rukun, damai dan tentram bersama para pribumi. Namun hubungan baik yang sudah terjalin sejak lama itu berubah ketika masuknya penjajah Jepang ke Pariaman.

Penyebab Tragedi Kanso

Ini di sebabkan karena masyarakat etnis Tionghoa ingin mendapat perlakuan istimewa di antara pribumi Pariaman sehingga rela melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian tentara Jepang. Meski harus menjadi mata-mata Jepang sekalipun.

Kecurigaan pribumi Pariaman terhadap etnis Tionghoa berawal dari di ketahuinya lokasi persembunyian para pejuang Pariaman oleh tentara Jepang sehingga beberapa di antara mereka kemudian di tangkap. Atas kejanggalan tersebut, pribumi Pariaman menaruh rasa curiga kepada salah satu keturunan Tionghoa yaitu Too Ghan. Karena para tentara Jepang juga sering berkumpul di kedai kopi milik Too Ghan. Selain itu, ketika sedang membeli daging ke pasar, Too Ghan seringkali bertanya kepada pejuang Pariaman mengenai peristiwa penyergapan pedati Jepang. Yang mana hal inilah yang menjadi sebab utama konflik antara pribumi dengan Jepang.

Kecurigaan Pejuang Pribumi

Guna menindaklanjuti kecurigaan tersebut, pejuang pribumi Pariaman yang tersisa mengutus anak-anak untuk bermain di depan kedai kopi milik Too Ghan. Usaha tersebut ternyata membuahkan hasil, anak-anak itu mendengar percakapan antara Too Ghan dan tentara Jepang dan di temukan pula fakta bahwa adik perempuan Too Ghan turut bersekongkol. Atas

Informasi tersebut, para pejuang menculik Too Ghan dan adiknya saat malam hari. Mereka di introgasi dan mengakui perbuatannya. Para pejuang yang terlanjur marah membunuh Too Ghan dan adiknya dengan di gorok lehernya menggunakan kansas atau kanso, yaitu logam seng tebal. Kanso yang di gunakan pada saat itu berasal dari bekas kaleng roti. Mereka yang terbunuh dengan kaleng yang masih menempel di leher kemudian “di pajang” di depan tugu Tabuik sekarang dengan tujuan agar tidak ada lagi yang berkhianat baik itu dari etnis Tionghoa maupun pribumi sekalipun. Atas peristiwa mengerikan tersebut, seluruh masyarakat etnis Tionghoa di Pariaman berbondong-bondong meninggalkan Pariaman dan menjual murah semua aset yang tersisa.

Peristiwa pembantaian atas pengkhianatan yang di lakukan oleh beberapa etnis Tionghoa ini di namakan sebagai tragedi Kanso 44. 44 di artikan sebagai tahun terjadinya peristiwa tersebut, yaitu pada tahun 1944. 79 tahun sudah pasca peristiwa ini terjadi hingga sekarang, tidak ada satu orang pun etnis Tionghoa yang berdomisili di Pariaman bahkan untuk kunjungan wisata pun sangat jarang di temukan. Tidak di ketahui pasti apakah tragedi kanso ini masih menjadi alasan enggannya etnis Tionghoa datang ke Pariaman, namun yang pasti baik itu pemerintah maupun masyarakat Kota Pariaman tidak pernah melarang mereka untuk datang.(*)

Redaksi SB

Recent Posts

Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu yang Berdasarkan Bulan Kelahiran

Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…

44 menit ago

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…

5 hari ago

Jangan Lewatkan Leg Day, Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kebugaran

JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…

6 hari ago

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…

6 hari ago

Atari Bangkit dari Masa Sulit, Raup Keuntungan Berkat Strategi Game Klasik

JAKARTA, Signalberita.com – Atari kembali menunjukkan eksistensinya di industri gim global setelah berhasil mencatatkan kinerja…

6 hari ago

Wali Kota Alfin Lepas Paskibraka Sungai Penuh untuk Tugas Nasional dan Provinsi Jambi

SUNGAI PENUH, Signalberita.com – Wali Kota Sungai Penuh Alfin, SH, secara resmi melepas para pelajar…

6 hari ago