INTERNASIONAL-Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memunculkan perdebatan di kawasan Timur Tengah setelah mengusulkan agar Suriah mengambil peran lebih besar dalam menghadapi Hizbullah di Lebanon. Menurut Trump, pemerintah di Damaskus dinilai lebih mampu membatasi pengaruh kelompok yang didukung Iran tersebut dibandingkan operasi militer yang selama ini dilakukan Israel.
Pernyataan yang beberapa kali disampaikan Trump sepanjang bulan ini langsung memicu reaksi beragam. Di Lebanon, gagasan tersebut membangkitkan kembali kekhawatiran lama terkait dominasi Suriah yang pernah berlangsung selama puluhan tahun. Sementara di Israel, usulan itu memperlebar perbedaan pandangan antara Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai strategi menghadapi Hizbullah dan Iran.
Hubungan kedua pemimpin dilaporkan memanas setelah Trump menilai operasi Israel terhadap Hizbullah justru berpotensi menggagalkan upaya Washington membuka ruang kesepakatan dengan Teheran. Sebaliknya, Netanyahu menegaskan bahwa keamanan Israel tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.
“Dia Presiden Amerika Serikat dan saya Perdana Menteri Israel. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel,” ujar Netanyahu dalam konferensi pers pada pertengahan Juni, seraya menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan, Jalur Gaza, dan wilayah Suriah.
Kritik keras juga datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir. Politikus sayap kanan tersebut menolak keras kemungkinan memberikan peran keamanan kepada pemerintahan Suriah yang dipimpin Ahmad al-Sharaa.
Di Lebanon, ide tersebut dinilai sensitif karena mengingatkan pada periode ketika Suriah memiliki pengaruh besar atas politik negara itu sejak 1976. Masa tersebut meninggalkan luka mendalam akibat berbagai kasus penghilangan paksa dan konflik berkepanjangan.
Pakar Lebanon dari Carnegie Middle East Center, Michael Young, menilai usulan Trump berpotensi memperburuk keseimbangan politik dan sektarian yang rapuh di negara tersebut. Menurutnya, keterlibatan militer Suriah justru dapat memicu kepanikan di kalangan komunitas Kristen, Druze, dan Syiah serta memperkuat dukungan terhadap Hizbullah.
Sementara itu, Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa sebelumnya telah membantah adanya rencana pengiriman pasukan ke Lebanon. Ia menyebut kabar mengenai operasi militer Suriah di negara tetangganya sebagai informasi yang tidak benar.
Hingga kini belum ada kejelasan mengenai bentuk peran yang dimaksud Trump, apakah berupa operasi langsung di wilayah Lebanon atau sekadar upaya memutus jalur logistik Hizbullah dari Suriah. Namun sejumlah pengamat memperingatkan bahwa langkah tersebut berisiko memperluas ketegangan dan menyeret Lebanon kembali ke dalam konflik regional yang lebih besar.(*)
JAKARTA, Signalberita.com – Pebalap Aprilia, Jorge Martin, menyambut penuh optimisme lanjutan MotoGP 2026. Ia menilai…
JAKARTA, Signalberita.com – Honda Scoopy menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Jakarta Sneaker…
Signalberita.com - Minuman dingin sering di konsumsi yang panas, salah satunya Es kopi. Namun, minuman…
JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital”…
JAKARTA, Signalberita.com – Banyak orang lebih fokus melatih otot tubuh bagian atas saat berolahraga dan…
MADIUN SB– Kota Madiun terus memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan berbagai ajang…