JAKARTA SB — Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menilai Indonesia sudah saatnya mengambil peran lebih besar dalam industri manufaktur, khususnya sektor otomotif.
Putra mengatakan Indonesia selama ini belum memiliki pemain utama (champion) di sektor manufaktur yang benar-benar berasal dari dalam negeri. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor.
“Indonesia sudah terlalu lama tidak memiliki champion di dalam sektor manufaktur yang benar-benar berasal dari dalam negeri, sehingga sudah waktunya kita memiliki peran lebih di dalam produksi baik kendaraan mobil maupun motor,” ujar Putra saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Ia mencontohkan India yang berhasil memperkuat industri otomotif domestiknya melalui skema kerja sama atau joint venture, salah satunya melalui Maruti Suzuki.
Menurut Putra, pengembangan industri otomotif nasional juga perlu di arahkan pada kendaraan listrik. Langkah tersebut di nilai penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor.
“Dan ke depannya cara paling penting untuk menggeser itu adalah menggunakan kendaraan listrik,” katanya.
Putra menambahkan, pemerintah perlu memberikan dukungan yang konsisten dan berkelanjutan agar industri otomotif nasional dapat berkembang dalam jangka panjang. Kerja sama dengan perusahaan asing juga tetap di perlukan, terutama untuk memperkuat riset, pengembangan, teknologi, dan rantai pasok.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik perlu terus di perluas. Menurutnya, ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik tidak boleh hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. a juga menilai pengembangan kendaraan listrik nasional harus di lakukan melalui kemitraan dengan produsen maupun negara lain. Selain mendorong produksi kendaraan listrik dalam negeri, kebijakan tersebut di harapkan dapat mengurangi konsumsi BBM dan menekan defisit impor energi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian
Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta, Jumat, menyatakan pemerintah akan mempercepat elektrifikasi mobilitas masyarakat.
Pemerintah, kata Prabowo, akan mengurangi subsidi BBM secara signifikan dan telah meluncurkan ekosistem motor listrik nasional.
Selain itu, pemerintah akan memberikan insentif bagi satu juta unit motor listrik yang di produksi di dalam negeri oleh pengusaha Indonesia.
Kebijakan tersebut di arahkan untuk menurunkan biaya kendaraan bagi masyarakat, mengurangi konsumsi bahan bakar impor, serta memperkuat industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, dan layanan purnajual.
Prabowo menilai pengembangan motor listrik buatan dalam negeri dapat memberikan manfaat berlapis, mulai dari menghemat pengeluaran keluarga, mengurangi impor energi, hingga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, penguatan industri dalam negeri, serta perluasan infrastruktur pengisian daya, Indonesia di harapkan tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga mampu menjadi basis produksi dan pemain penting dalam industri otomotif global.(*)




















