Signalberita.com – Amerika Serikat (AS) dan China tengah bersaing untuk mendapatkan akses terhadap deposit mineral tanah jarang dan niobium di Mrima Hill, Kenya. Kawasan yang berada sekitar 65 kilometer barat daya Mombasa itu bukan hanya memiliki potensi mineral bernilai ekonomi besar, tetapi juga merupakan kawasan sakral bagi masyarakat setempat.
Mrima Hill diperkirakan menyimpan mineral tanah jarang serta niobium, logam yang banyak digunakan untuk menghasilkan baja yang lebih kuat dan ringan. Nilai sumber daya mineral di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 62,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1 kuadriliun.
Pemerintah Kenya pada Maret 2026 membuka tender internasional untuk menentukan perusahaan yang akan mengembangkan deposit mineral di Mrima Hill. Mengutip laporan South China Morning Post pada Minggu (27/9/2026), Sekretaris Utama Pertambangan Kenya Harry Kimtai mengatakan terdapat enam kandidat yang masih bertahan dalam proses tender.
Jumlah tersebut turun dari 13 kelompok yang sebelumnya menyatakan minat. Dari enam kandidat yang tersisa, dua di antaranya merupakan perusahaan atau kelompok asal China.
Sementara itu, pejabat AS menyebut dua konsorsium yang dipimpin pihak Amerika juga mengikuti proses tender untuk memperoleh hak pengembangan Mrima Hill.
Salah satunya adalah konsorsium Mrima Earth Limited yang dipimpin Critical Metals Corp, perusahaan yang terdaftar di bursa New York. Pada Juli 2026, perusahaan tersebut menyatakan telah lolos ke tahap lanjutan dalam proses tender.
Namun, rencana pengembangan pertambangan di Mrima Hill mendapat penolakan dari sebagian masyarakat setempat. Kawasan tersebut merupakan salah satu Kaya, yakni hutan sakral dan situs leluhur masyarakat Digo, salah satu dari sembilan kelompok yang tergabung dalam komunitas Mijikenda.
Hutan Mrima juga telah ditetapkan sebagai monumen nasional Kenya sejak 1992. Masyarakat setempat sebelumnya telah menolak sejumlah rencana pertambangan di kawasan tersebut karena khawatir aktivitas pertambangan dapat merusak situs-situs sakral dan habitat satwa, memicu penggusuran, serta mengancam pertanian dan akses masyarakat terhadap sumber daya hutan.
Di tengah persaingan AS dan China untuk mendapatkan akses terhadap mineral strategis tersebut, pemerintah Kenya menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan potensi ekonomi dari pengembangan sumber daya mineral dengan perlindungan kawasan sakral dan kepentingan masyarakat setempat.(*)
Sumber: Kupas TV Lampung



















