MOBILE, Signalberita.com – Pemerintah Kota Mobile, Alabama, Amerika Serikat, menjadi korban penipuan keuangan berskala besar yang menyebabkan kerugian mencapai 14,7 juta dolar AS atau sekitar Rp240 miliar. Dana tersebut dikirim melalui satu kali transaksi transfer bank yang berkaitan dengan pembangunan Regions Arena.
Wali Kota Mobile, Spiro Cheriogotis, mengungkapkan bahwa transaksi tersebut terjadi pada awal Oktober 2026. Namun, ia mengaku baru mengetahui adanya penipuan itu pada Jumat.
“Jelas, ini buruk. Ini sangat buruk, dan tidak ada yang bisa saya katakan untuk membuat situasi ini menjadi baik,” kata Cheriogotis pada Rabu.
Kasus tersebut kini tengah di selidiki oleh Biro Investigasi Federal (FBI). Pemerintah kota juga telah menunjuk firma hukum dan perusahaan akuntansi forensik untuk melakukan pemeriksaan internal guna menelusuri aliran dana serta mengidentifikasi kemungkinan kelemahan dalam prosedur keuangan.
FBI Selidiki Dugaan Penipuan Dana Pemerintah
Cheriogotis mengatakan pemerintah kota telah mengambil langkah untuk memperketat pengawasan transaksi keuangan, meskipun sejumlah mekanisme pengendalian sebenarnya sudah di terapkan sebelum kejadian tersebut.
Salah satu kebijakan baru yang disiapkan adalah mewajibkan penyerahan cek secara langsung untuk transaksi bernilai besar, alih-alih menggunakan transfer elektronik.
“Jika sebuah cek memiliki dua tanda koma di dalam nominalnya, cek itu harus di serahkan secara langsung. Tidak lagi ditransfer melalui kawat atau dikirim secara elektronik,” ujarnya.
Sementara itu, Miles Beckner, asisten agen khusus yang bertanggung jawab atas bidang Keamanan Nasional di Kantor Lapangan FBI Mobile, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan keterangan terperinci mengenai penyelidikan yang sedang berlangsung.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa aparat federal akan menindaklanjuti setiap petunjuk yang di temukan.
“Departemen Kehakiman dan FBI menangani penipuan terhadap warga dan pemerintah kota dengan sangat serius. Kami akan menyelidiki dan menuntut para pelaku semaksimal mungkin sesuai hukum,” kata Beckner.
Pemerintah Daerah Rentan Menjadi Sasaran Penipuan
Kasus yang menimpa Mobile bukan satu-satunya penipuan keuangan yang menyasar lembaga pemerintahan di Amerika Serikat.
FBI mencatat, penipuan yang memanfaatkan kompromi email bisnis atau business email compromise (BEC) menyebabkan kerugian lebih dari 3 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.
Modus tersebut umumnya melibatkan penyusupan atau penyamaran melalui komunikasi email untuk mengelabui korban agar mengirimkan uang ke rekening yang di kendalikan pelaku.
Pemerintah kota, kabupaten, hingga lembaga pendidikan di berbagai wilayah AS dilaporkan menjadi sasaran serangan serupa.
Awal tahun ini, misalnya, Kota Arab di Alabama utara kehilangan lebih dari 430.000 dolar AS akibat skema phishing yang berkaitan dengan pembangunan pusat rekreasi baru.
Darren Mott, mantan agen khusus pengawas FBI yang kini menjalankan dua perusahaan konsultan, mengatakan pemerintah daerah kerap menjadi target karena keterbatasan anggaran untuk membangun sistem keamanan siber yang memadai.
Menurutnya, perlindungan terhadap sistem email, keamanan personel, serta ancaman dari pihak internal membutuhkan sumber daya yang tidak selalu di miliki pemerintah daerah.
Mott juga menilai nilai kerugian dalam kasus Mobile sangat mencolok.
“Jumlah itu mungkin yang terbesar yang pernah saya dengar,” ujarnya.
Kerugian Hampir Menyamai Anggaran Program Kota
Nilai 14,7 juta dolar AS merupakan jumlah yang sangat besar bagi keuangan Kota Mobile. Angka tersebut hampir menyamai anggaran yang dialokasikan pemerintah kota untuk program prioritas transportasi Second Line Transit tahun ini.
Nilai kerugian itu juga mendekati anggaran Departemen Taman dan Rekreasi setempat.
Meski demikian, Cheriogotis memastikan insiden tersebut tidak akan mengganggu pelayanan publik maupun operasional pemerintahan kota.
“Jika ada sisi positifnya, pelayanan dan operasional kota tidak akan terdampak, bahkan oleh kerugian ini,” katanya.
Ia menjelaskan, pembangunan Regions Arena memiliki anggaran sekitar 300 juta dolar AS dan dilengkapi dana cadangan sebesar 15 juta dolar AS untuk menutup kebutuhan tak terduga.
Dana cadangan tersebut kini menjadi salah satu penopang agar proyek tetap berjalan meskipun pemerintah kota kehilangan dana dalam jumlah besar.
“Ini bukan penggunaan dana cadangan yang kami harapkan, tetapi inilah situasi yang harus kami hadapi. Pembangunan arena akan terus berlanjut dan diselesaikan. Meski mengalami kerugian yang sangat menyakitkan ini, kami tetap memperkirakan proyek selesai sesuai anggaran,” ujar Cheriogotis.
Asuransi Siber Belum Tentu Menutup Seluruh Kerugian
Pemerintah Kota Mobile diketahui memiliki polis asuransi siber. Namun, Cheriogotis mengatakan pemerintah masih menghitung jumlah ganti rugi yang mungkin diperoleh dari perusahaan asuransi.
Ia mengakui bahwa pembayaran asuransi tersebut tidak akan sepenuhnya menutup kerugian yang dialami pemerintah kota.
Peluang pemulihan dana juga bergantung pada hasil penyelidikan dan kemampuan aparat melacak aliran uang yang telah di kirim kepada pelaku.
Menurut Mott, peluang mendapatkan kembali dana hasil penipuan bisa semakin kecil jika pelaku segera memindahkan uang ke berbagai rekening untuk menyamarkan jejak transaksi. Dalam sejumlah kasus, dana juga di konversi menjadi mata uang kripto atau dikirim ke rekening di luar negeri.
Ia menekankan pentingnya bertindak cepat setelah penipuan transfer diketahui.
“Pada dasarnya, tindakan harus dilakukan dalam waktu tiga hari. Jika lebih dari itu, uang tersebut kemungkinan sudah berpindah,” kata Mott.
Kasus ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan lembaga publik mengenai pentingnya pengamanan transaksi keuangan, verifikasi perubahan instruksi pembayaran, serta pengawasan sistem komunikasi digital.
Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, pemerintah Kota Mobile berharap dapat mengungkap pihak yang bertanggung jawab dan memulihkan sebagian dana yang hilang tanpa mengganggu kelanjutan pembangunan Regions Arena maupun pelayanan kepada masyarakat.(*)



















