JAKARTA, Signalberita.com – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) mendorong investor memperkirakan Federal Reserve (The Fed) berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan pada Desember mendatang.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 1,4% menjadi US$4.008,76 per ons troi pada pukul 14.09 waktu Eastern AS atau 18.09 GMT.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup melemah 0,5% ke level US$4.031,40 per ons troi.
Penurunan tersebut membuat harga emas berada di jalur untuk mencatatkan pelemahan bulanan selama dua bulan berturut-turut.
Inflasi AS Tekan Harga Emas
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menilai tekanan inflasi AS yang masih berada di atas target The Fed memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga pada Desember.
Menurut Meger, laporan inflasi terbaru belum mampu menghilangkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed, meningkat 0,5% pada September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Agustus.
Kenaikan tersebut terjadi ketika masyarakat AS harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bensin dan sejumlah barang lainnya.
Pada Rabu (28/10/2026), The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan sesuai perkiraan pasar. Bank sentral AS itu memilih tidak mengubah biaya pinjaman menjelang pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung pada pekan berikutnya.
Namun, pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Perkiraan tersebut mengacu pada CME Group FedWatch Tool.
Ekspektasi Kenaikan Bunga Kurangi Daya Tarik Emas
Spekulasi kenaikan suku bunga menjadi tekanan bagi harga emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, investor menghadapi biaya peluang lebih tinggi saat menyimpan emas. Kondisi ini dapat mendorong sebagian pelaku pasar mengalihkan dana ke aset berbunga yang menawarkan imbal hasil.
Selain kebijakan moneter, Meger mengingatkan investor untuk mencermati pergerakan harga energi.
Perkembangan konflik di Timur Tengah, baik eskalasi maupun meredanya ketegangan, dapat memengaruhi harga minyak dan energi. Perubahan harga energi selanjutnya berpotensi memengaruhi inflasi serta pergerakan harga logam mulia.
Investor juga memantau pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026. Hasil pemilihan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan fiskal dan sentimen pasar.
Harga Perak, Platinum, dan Paladium Ikut Melemah
Tekanan pasar juga menjalar ke sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot turun 3,5% menjadi US$52,08 per ons troi.
Platinum melemah 3,7% ke level US$1.481,75 per ons troi. Sementara itu, paladium turun 0,9% menjadi US$1.001,92 per ons troi.
Penurunan harga ketiga logam tersebut juga menempatkannya pada jalur pelemahan bulanan selama dua bulan berturut-turut.
ECB Waspadai Risiko Inflasi akibat Energi
Dari Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, bank sentral tersebut memperingatkan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi.
Di sisi lain, Presiden ECB Christine Lagarde dikabarkan akan mengakhiri masa jabatannya pada 7 Februari, berdasarkan keterangan bank sentral tersebut.
Perkembangan inflasi di Amerika Serikat dan Eropa, perubahan harga energi, serta arah kebijakan bank sentral menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan pergerakan harga logam mulia dalam waktu dekat.
Investor pun akan terus mencermati data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral untuk memperkirakan arah suku bunga serta menentukan strategi investasi berikutnya.(*)




















