JAKARTA, Signalberita.com — Harga Bitcoin (BTC) kembali mencatat penguatan signifikan setelah sebelumnya bergerak relatif lesu selama beberapa bulan. Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin melonjak sekitar 22 persen dan kembali menembus level US$78.000.
Pada awal pekan, Bitcoin masih berada di kisaran US$62.800. Kenaikan tersebut menjadi perhatian pasar karena sebelumnya BTC sempat mengalami tekanan setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sekitar US$126.000 pada Oktober 2025.
Sejumlah faktor ekonomi dan sentimen pasar turut mendorong penguatan Bitcoin. Berikut lima faktor utama di balik reli tersebut.
1. Likuiditas Pasar AS Mulai Bertambah
Salah satu faktor yang di sebut mendorong kenaikan Bitcoin adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat terkait pasar obligasi.
Departemen Keuangan AS meningkatkan rencana pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang dari maksimal US$2 miliar menjadi US$4 miliar per sesi.
Kebijakan tersebut di tujukan untuk membantu menjaga stabilitas pasar obligasi sekaligus menekan biaya pinjaman. Langkah ini juga berpotensi meningkatkan likuiditas di pasar keuangan.
Kondisi likuiditas yang lebih longgar biasanya menjadi sentimen positif bagi aset berisiko seperti saham dan aset kripto, termasuk Bitcoin.
2. Imbal Hasil Obligasi AS Turun
Penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS turut menjadi faktor yang di perhatikan investor.
Ketika yield obligasi berada pada level tinggi, aset tersebut menjadi lebih menarik bagi investor karena menawarkan potensi keuntungan dari instrumen yang relatif aman. Sebaliknya, ketika yield menurun, investor dapat mulai mencari alternatif dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau DXY juga mengalami pelemahan sekitar 2 persen di bandingkan level tertingginya pada bulan sebelumnya.
Pelemahan dolar AS dan penurunan yield obligasi menjadi kombinasi yang dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
3. Short Squeeze Mempercepat Kenaikan
Reli Bitcoin juga semakin cepat akibat fenomena short squeeze.
Trader yang membuka posisi short berharap harga aset turun. Namun, ketika Bitcoin justru bergerak naik dengan cepat, posisi tersebut dapat mengalami kerugian dan akhirnya terkena likuidasi.
Data CoinGlass yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan sekitar US$2,7 miliar posisi short kripto terlikuidasi selama reli terbaru.
Likuidasi posisi short memicu pembelian kembali aset oleh trader. Tekanan beli tambahan tersebut kemudian dapat mendorong harga semakin tinggi dan menciptakan efek berantai di pasar.
4. Sentimen Positif terhadap Regulasi Kripto AS
Faktor berikutnya berasal dari perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump di ketahui mendorong Kongres untuk melanjutkan pembahasan CLARITY Act, sebuah rancangan regulasi yang di tujukan untuk memberikan kepastian aturan bagi industri aset digital.
Kejelasan regulasi di nilai penting karena investor institusional dan perusahaan kripto membutuhkan kepastian hukum sebelum meningkatkan keterlibatan mereka di pasar.
Sikap pemerintah AS yang di nilai lebih mendukung perkembangan industri kripto turut meningkatkan optimisme pelaku pasar.
5. Investor Mulai Kembali Masuk Pasar
Setelah mengalami tekanan cukup panjang, sebagian investor mulai kembali mengambil posisi di Bitcoin seiring munculnya sejumlah sentimen positif.
Bitcoin sebelumnya sempat mencapai sekitar US$126.198 pada Oktober 2025 sebelum turun hingga sekitar US$59.101 pada Maret 2026.
Perbaikan likuiditas, penurunan yield obligasi, pelemahan dolar AS, perkembangan regulasi, serta meningkatnya aktivitas pasar menjadi sejumlah katalis yang mendorong investor kembali mempertimbangkan aset kripto.
Penguatan juga terjadi pada aset kripto lainnya. Ethereum tercatat naik sekitar 26 persen dalam sepekan, sementara Hyperliquid (HYPE) meningkat sekitar 36 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto bertambah sekitar US$500 miliar dalam periode tersebut.
Reli Bitcoin Belum Menjamin Tren Naik Jangka Panjang
Meski kenaikan lebih dari 20 persen dalam sepekan menjadi sinyal positif, Bitcoin masih berada cukup jauh dari rekor tertingginya sekitar US$126.198.
Harga BTC juga belum melampaui level tertinggi 2026 yang berada di kisaran US$94.820 pada Januari.
Karena itu, reli terbaru belum dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa tren penurunan Bitcoin telah berakhir sepenuhnya.
Untuk sementara, kenaikan Bitcoin lebih tepat dipandang sebagai hasil dari beberapa katalis positif yang muncul secara bersamaan, mulai dari kondisi likuiditas, pasar obligasi, aktivitas perdagangan, sentimen regulasi, hingga kembalinya minat investor.(*)




















