JAKARTA, Signalberita.com – Pemandangan berupa retakan atau lembah raksasa di permukaan Bumi sering kali di kaitkan dengan gempa bumi berkekuatan besar. Namun, tidak semua struktur seperti itu terbentuk akibat satu kali guncangan gempa.
Dalam ilmu geologi, struktur semacam ini dapat berkaitan dengan rift valley, yakni lembah yang terbentuk ketika kerak Bumi mengalami gaya tarikan dari dua arah yang berlawanan. Proses tersebut menyebabkan bagian kerak di antara dua sisi perlahan mengalami penurunan dan membentuk cekungan memanjang.
Berbeda dengan gempa bumi yang dapat terjadi dalam hitungan detik, pembentukan lembah akibat proses tektonik berlangsung sangat lambat. Perubahan tersebut dapat terjadi selama jutaan tahun dan baru terlihat jelas setelah mengalami proses geologi yang panjang.
Salah satu kawasan yang kerap di kaitkan dengan aktivitas tektonik jenis ini adalah Shanxi Rift System di China. Sistem tersebut merupakan kawasan tektonik yang terbentuk melalui proses peregangan dan penurunan kerak Bumi dalam jangka waktu geologis.
Ukuran sebuah segmen lembah yang terlihat di permukaan tidak dapat langsung di anggap sebagai ukuran keseluruhan sistem rift. Struktur tektonik semacam ini dapat membentang dalam wilayah yang jauh lebih luas dan memiliki cekungan yang kemudian terisi material sedimen selama jutaan tahun.
Menariknya, proses tektonik tersebut bukan berarti telah berhenti. Pergerakan kerak Bumi masih dapat berlangsung hingga sekarang, tetapi kecepatannya sangat kecil, umumnya dalam skala milimeter hingga sentimeter per tahun.
Perubahan tersebut memang tidak mudah dirasakan manusia secara langsung. Namun, apabila berlangsung selama jutaan tahun, pergerakan yang sangat kecil sekalipun dapat menghasilkan perubahan besar pada bentang alam.
Karena itu, keberadaan lembah atau retakan raksasa tidak selalu menunjukkan bekas gempa bumi dahsyat. Dalam konteks geologi, struktur tersebut bisa menjadi hasil dari proses tektonik yang berlangsung secara perlahan dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa permukaan Bumi terus mengalami perubahan. Lempeng dan kerak Bumi bergerak secara dinamis, meskipun sebagian besar prosesnya berlangsung terlalu lambat untuk diamati dalam kehidupan manusia sehari-hari.(*)




















