MUAROJAMBI.COM — Muaro Jambi di tetapkan wilayah Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai 15 April hingga 15 Oktober 2026. Kebijakan ini di ambil seiring masuknya musim kemarau yang kerap meningkatkan risiko kebakaran di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Muaro Jambi, Paruhuman Lubis, menyebut keputusan tersebut mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Mei hingga September.
“Prediksi BMKG, puncak kemarau pada Mei hingga September, sehingga status di naikkan menjadi siaga darurat,” ujarnya.
Antisipasi Dini Hadapi Musim Kemarau
Meski status siaga telah di tetapkan, BPBD Muaro Jambi belum menggelar apel kesiapsiagaan lintas instansi. Namun demikian, seluruh pihak terkait telah di informasikan untuk bersiap menghadapi potensi kebakaran.
“Apel gabungan kemungkinan akan di laksanakan dalam waktu dekat,” tambahnya.
Ancaman Serius dari Lahan Gambut
Muaro Jambi di kenal memiliki ribuan hektare lahan gambut dengan kedalaman mencapai 5 hingga 8 meter. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut sangat rentan terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau.
Berbeda dengan kebakaran hutan biasa, api di lahan gambut dapat menyebar di bawah permukaan tanah, sulit terdeteksi, dan jauh lebih sulit dipadamkan. Bahkan, dalam banyak kasus, api dapat bertahan berminggu-minggu dan menghasilkan kabut asap tebal yang berdampak luas.
Perlu Langkah Nyata, Bukan Sekadar Status
Penetapan status siaga darurat menjadi peringatan dini agar pemerintah daerah tidak kembali menghadapi krisis kabut asap seperti yang pernah terjadi di wilayah Sumatra.
Namun, langkah ini di nilai belum cukup tanpa aksi konkret di lapangan. Upaya seperti patroli intensif, pengawasan pembukaan lahan, serta kesiapan sumber air untuk pemadaman dinilai krusial dalam mencegah kebakaran meluas.
Dengan musim kemarau yang semakin mendekat, waktu untuk bertindak semakin terbatas. Pemerintah daerah di tuntut bergerak cepat dan sigap, sebelum kemunculan titik api berkembang menjadi bencana besar yang sulit di kendalikan.(Tim)








