JAKARTA, Signalberita.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan awal pekan. Rupiah di buka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (7/9/2026).
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah melemah 0,07 persen atau 12 poin ke level Rp17.654 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS pada awal perdagangan.
Peso Filipina tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, yakni 0,15 persen. Baht Thailand melemah 0,08 persen, dolar Singapura 0,07 persen, ringgit Malaysia 0,05 persen, sedangkan yuan China terkoreksi 0,03 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,77 persen, dolar Taiwan naik 0,42 persen, sementara yen Jepang menguat 0,15 persen. Rupee India dan dolar Hong Kong relatif stagnan.
Dolar AS Rebound
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah salah satunya di pengaruhi penguatan kembali dolar AS setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.
Data tersebut meningkatkan perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar global.
Meski demikian, ruang pelemahan rupiah di perkirakan masih terbatas. Pelaku pasar cenderung menunggu sejumlah indikator ekonomi domestik sebelum menentukan arah transaksi berikutnya.
“Para pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menantikan data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis siang ini,” ujar Lukman Leong, Senin (7/9/2026).
Data cadangan devisa (cadev) menjadi salah satu indikator yang di nantikan pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai ketahanan eksternal perekonomian Indonesia serta kemampuan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Rupiah Di proyeksi Bergerak di Rp17.600-Rp17.700
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak terbatas sepanjang perdagangan Senin.
Rupiah di proyeksikan berada dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan di pengaruhi oleh perkembangan dolar AS di pasar global, respons investor terhadap data ekonomi Amerika Serikat, serta rilis data cadangan devisa Indonesia.
Investor pun masih mencermati perkembangan tersebut sebelum mengambil posisi lebih agresif di pasar valuta asing.(*)




















