Jakarta signalberita.com – Honda Prospect Motor memantau dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi industri otomotif nasional, terutama pada biaya produksi dan daya beli konsumen.
Pada perdagangan Kamis (14/5/2026), kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.502 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku industri karena dapat memberikan tekanan terhadap operasional bisnis otomotif.
Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, mengatakan bahwa kondisi pasar otomotif saat ini masih bergerak di namis dan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurs rupiah, kondisi ekonomi, hingga kemampuan belanja masyarakat.
“Kami terus memonitor perkembangan pasar secara berkala, termasuk terkait nilai tukar dan biaya produksi,” ujar Yusak, Kamis (14/5/2026).
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, Honda menegaskan fokus perusahaan tetap menjaga daya saing produk dan memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Menurut Yusak, Honda berupaya mempertahankan daya tarik produk melalui model yang sesuai kebutuhan pasar, program penjualan yang kompetitif, serta layanan purna jual yang kuat.
“Kami ingin terus memberikan value terbaik bagi konsumen melalui produk yang relevan, program penjualan yang memudahkan, serta layanan purna jual yang optimal,” katanya.
Ke depan, Honda menyatakan akan menyesuaikan strategi bisnis mengikuti perkembangan pasar dan kondisi ekonomi domestik. Namun, langkah tersebut tetap di arahkan untuk menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang, bukan hanya mengejar target penjualan jangka pendek.
“Honda akan terus menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan pasar dengan tetap menjaga keseimbangan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” tutup Yusak.(*)









