Jakarta SB – Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai target pertumbuhan ekonomi tinggi hanya dapat dicapai apabila pemerintah memiliki fondasi fiskal dan sistem pembiayaan yang lebih kuat di banding saat ini.
Menurut Fakhrul, pertumbuhan ekonomi nasional tidak dapat terus bergantung pada konsumsi domestik maupun booming komoditas global. Indonesia membutuhkan kapasitas negara yang lebih besar agar program hilirisasi, industrialisasi, dan perluasan kelas menengah dapat berjalan secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa kapasitas negara tidak hanya di ukur dari besarnya APBN, tetapi juga kemampuan menjaga kepercayaan pasar, memperkuat stabilitas eksternal, serta menciptakan sumber pembiayaan jangka panjang yang stabil.
Fakhrul menyoroti rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang masih berada di kisaran 11 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ruang penguatan fiskal nasional masih sangat besar di banding sejumlah negara berkembang lainnya.
Namun demikian, penguatan kapasitas fiskal di nilai tidak cukup hanya melalui kenaikan tarif pajak atau pungutan baru. Pemerintah perlu fokus pada peningkatan kepatuhan pajak, perluasan basis ekonomi formal, serta percepatan di gitalisasi administrasi perpajakan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi kebijakan guna mempertahankan kepercayaan investor di tengah kondisi ekonomi global yang semakin volatil.
Selain itu, Fakhrul menilai Indonesia masih menghadapi kerentanan terhadap siklus penguatan dolar AS meskipun memiliki surplus perdagangan yang besar. Karena itu, pemerintah dan otoritas keuangan perlu memperkuat struktur pembiayaan nasional.
Tiga Agenda Utama
Fakhrul mengusulkan tiga langkah strategis untuk memperkuat sistem pembiayaan nasional, yaitu:
Memperdalam pasar derivatif domestik untuk mendukung instrumen lindung nilai (hedging).
Memperluas internasionalisasi Rupiah melalui skema local currency settlement regional.
Memperbesar sumber pembiayaan non-dolar, termasuk melalui obligasi berbasis Renminbi.
Menurutnya, Indonesia juga perlu membangun lingkungan pembiayaan jangka panjang berbasis Rupiah guna mendukung proyek hilirisasi dan industrialisasi yang membutuhkan tenor panjang.
Investor domestik seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer investasi, dan sovereign wealth fund dinilai perlu diperkuat agar pembiayaan pembangunan tidak terlalu bergantung pada modal asing jangka pendek.(*)










